Realisme Vs Empirisme

newtonDalam sebuah penelitian ilmiah janganlah kita mudah menganggap enteng perbedaan teknis belaka, karena perbedaan pendekatan penulisan (penelitian) ilmiah adalah berbicara tentang perbedaan mendasar khususnya pada bagian Filsafat Ontologis yaitu “pertarungan sebuah persepsi kebenaran”

Sejak dahulu pendekatan ilmiah dalam mencari kebenaran sudah terbagi dua yang pertama adalah pendekatan rasionalis yang di usung oleh Plato kemudian yang kedua adalah pendekatan empiris yang di dalami oleh Aristoteles yang kebetulan juga adalah murid kesayangan Plato

Pendekatan Rasionalis

Para ilmuan kaum rasionalis meyakini bahwa sebuah realistis nyata bisa digunakan dengan rasio semata (idealis), bahkan Plato menyebutkan bahwa benda-benda kongkrit di alam dunia ini pada dasarnya adalah tiruan dari Alam Ide, maka pengetahuan indrawi dapat menjadi jalan untuk mengenal atau mengingat kembali Alam Ide. Plato berpendapat bahwa tujuan tertinggi adalah eudaimonia atau mempunyai jiwa (daimon) yang baik. Dengan demikian manusia menurut Plato adalah kesatuan unsur material dan non material yang tidak terpisahkan. Dengan dualisme ini manusia dapat menemukan atau mengingat kembali Alam Ide yang dulu pernah dikenal.

Plato juga menyumbangkan ajaran tentang “idea”. Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-fisik. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-fisik itu muncul semua benda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, … bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung, … kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak.

Plato ada pada pendapat, bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, — konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.

Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh. Itu persoalan ada (“being”) dan mengada (menjadi, “becoming”).

Untuk itulah sebuah kebenaran yang benar-benar nyata itu harus bersifat koheren dan deduktif  dan dari sinilah muncul perhitungan matematika yang menjadi ratu peradaban kaum rasionalis. Kelemahan pendekatan ilmiah ini adalah lemah dalam pembuktian ilmiah(empirisme) karena dengan pendekatan rasional matematis semua hal didunia ini (tanpa terbatas) dapat dijelaskan dengan angka-angka dengan kesimpulan paripurna

Ilmu matematika mulai mengrogoti para kaum rasionalis yang terindoktrinasi. Sehingga banyak para pemikir Rasionalis menggunakan analisis matematik sebagai panduan kebenaran. Simak saja Ilmuawan yang bernama Galeleo yang mengatakan bahwa alam semesta disadarkan pada 3 postulat (postulat adalah suatu aksioma atau basis dari sistem logika formal yang bersama-sama dengan aturan inferensi mendefinisikan logika) yaitu:

Adanya hukum-hukum universal yang bersifat matematis

Penemuan hukum-hukum terjadi berkat eksperimen saintifik

Data-data eksperimen harus bisa diulang-ulang

Galileo juga adalah orang yang pertama memadukan percobaan ilmiah dengan bahasa matematika untuk merumuskan hukum-hukum alam semesta yang ditemukannya. Selanjutnya Galileo menetapkan postulat bahwa agar para ilmuwan dapat menggambarkan alam secara sistematis maka mereka harus membatasi diri untuk mempelajari sifat-sifat esensial benda mateial yang dapat diukur dan dikuantifikasi.

Astronom Nicholas Copernicus (1507) juga melakukan metode matematiknya dalam menghidupkan kembali ajaran orang-orang Yunani dijaman purba yang mengatakan bahwa: bukan matahari lah yang berputar mengelilingi bumi, sebagaimana ajaran gereja dan tercantum pada Yosua 10:12-13, melainkan bumi-lah yang berputar dan mengedari matahari. Penelitian ini juga dilakukan oleh Copernicus dengan mengitung pola edar matahari dengan rumus-rumus matematik logis.

Perhitungan matematik Johannes Kepler (1571-1630)  jugalah yang menemukan bahwa :

Orbit dari planet-planet berbentuk elips (bulatan panjang)

Pasang dan turunnya air laut dipengaruhi secara signifikan oleh bulan

orbit planet sebenarnya bukan berbentuk lingkaran melainkan lebih berbentuk oval lebih jelas lagi mengatakan sikapnya atas pemujaan akan pendekataan ilmiahnya secara rasionalis.

Sang raksasa Newton yang namanya masuk dalam orang paling berpengaruh di dunia ke dua setelah Nabi Muhammad SAW dalam buku M. Hart juga mengungkapkan Di dalam buku “ Philosophiae Naturalis Principia Mathematica“ menyatakan alam semesta sebagai tempat rasional, dapat dimengarti dan diprediksi

Masuknya ilmu matematis bukan saja masuk dikalangan astronom dan fisikawan bahkan matematis menjalar ke ilmu pasti lain. Lihat saja bagaimana seorang kimiawan Alkimiawan pertama yang dianggap menerapkan metode ilmiah terhadap alkimia dan membedakan kimia dan alkimia adalah Robert Boyle (1627–1691). Walaupun demikian, kimia seperti yang kita ketahui sekarang diciptakan oleh Antoine Lavoisier dengan hukum “kekekalan massanya” pada tahun 1783 serta kemampuannya memasukkan matematika yang abstrak ke dalam kimia.

Sampai akhirnya penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869. Semua itu dilakukan dengan perhitungan matematis yang matang dan mendalam.

Dalam bidang ilmu mekanik bahkan matematika menjalar secara bebas , Ilmuwan asal London Inggris Charles bebage (1820) akhirnya mampu menciptakan alat mekanis yang didasarkan pada prinsip-prinsip matematika. Sehingga penemuan mekanik berbahasa matematik ini memicu

Alan Mathison Turing (23 Juni 19127 Juni 1954) seorang peneliti matematika dan komputer, untuk meneliti dan membangun komputer modern digital pertama. Selain itu dia adalah orang pertama yang berpikir menggunakan komputer untuk berbagai keperluan. Dia mengatakan bahwa komputer dapat menjalankan berbagai program. Bahkan dia juga memberikan ide tentang mesin Turing, mesin yang dapat menjalankan sekumpulan perintah dengan memanfaatkan tombol biner, pada era sekarang bahasa program bahkan sudah mampu mempunyai 7 program bahsa seperti C, C++, Java , pascal dll

Kemudian di munculah ilmuwan terhebat abad 20 yaitu Albert Einstein yang melakukan pengembangan akan penelitian matematik Newton bahkan lebih lanjut Einstein melakukan kritik tajam terhadap teori-teori matematik Newton sehingga didapatlah sebuah rumus Teori Relativitas

Munculnya kaum Newtonian

Dalam perjalanan sejarahnya, paradigma newton berkembang menjadi paradigm Newtonian kemudian dianggap metode yang memiliki bukti kebenaran berupa prestasi dalam penciptaan teknologi, pelaksanaan pembangunan dan penggalian misteri alam, kemampuan prediksi-prediksi yang sebagian besar akurat berdasarkan kausalitas, dll. Maka wajar jika kemudian metode yang diterapkannya diklaim sebagai metode paling valid karena memang jelas membuktikan kemajuan kepada masyarakat pada saat itu, dan dibelakang munculnya paradogma ini adalah perhitungan matematis yang rasional.

Kaum newtonia juga sangat ketat dalam melakukan peneltian kebenaran secara netral termasuk akan sisi metafisik yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan tertinggi alam.

Menurut Francis Bacon filsof asal Inggris ia mengatakan bahwa alam itu sendiri dilihat sebagai sesuatu yang tidak mempunyai sifat-sifat manusia dan spiritual

Bahkan Descartes secara tegas mengenalkan akal atau rasionalitas sebagai alat yang melapangkan manusia mencapai kebenaran atawa hakikat kenyataan yang ada di sekelilingnya. Subjek ala Descartes yang kemudian dikenal sebagai “Subjek Cartesian” adalah sosok diri otonom yang memaknai dan memberi arti kondisi lingkungannya lewat suatu proses pikir yang rasional. Maka “Aku berpikir maka aku ada” adalah kalimat penegas akan pentingnya realitas bebas dari hal apapun.

Pendekatan Empiris

Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya. Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal dilihat dari teori Plato. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita.

Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir. Logika dibentuk dari kata, dan  berarti sesuatu yang diutarakan. Daripadanya logika berarti pertimbangan pikiran atau akal yang dinyatakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.

Pemikiran Arostoteles kemudian diperkuat dengan kesimpulan John locke dalam penelitiannya akan pendidikan anak  bahwa anak seperti kertas putih. Masuknya pandangan Empirisme ini dalam tatanan ilmu pengetahuan sebenarnya dapat membuat semakin kuat ilmu pengetahuan dan memperkuat rasionalitas itu sendiri. Seorang Filsof  Idealisme Jerman Immanuel Kant menegaskan bahwa realita yang kita lihat selama ini ternyata tidaklah tunggal, ia membagi menjadi 2 realitas:

  1. Realitas pada dirinya sendiri noumenon
  2. Realitas yang kita serap fenoumenon

Munculnya Postivisme

Ide positive, yang pertama kali digunakan Auguste Comte, berperan vital dalam membedakan metode pencari pembenaran , dengan memisahkan keduanya dari unsur agama dan metafisis, yang dalam kasus Comte berarti comte membagi menjadi beberapa tingkatan manusia yaity:

  1. Teolisik yaitu animism , polymisme dan monoteisem
  2. Metafisik lebih abstaksi mengarah kepada sebab dan kekuatan alam semesta
  3. Positif segala sesuatu dijelaskan secara rasional empiris untuk pencarian kebenaran

Rasional empiris

Dua pendekatan ini (rasional dan empiris) kini menjadi standar baku dalam penelitian dan pencarian kebenaran karena disemua metode mempunyai kelebihan dan kekurangan dan saling melengkapi. Adanya observasi, eksperimen dan komparasi dapat menjadi jalan tengah untuk semua peneltian ilmu pengetahuan.

dari berbagai sumber

Posted on 23/10/2009, in Education, Politic and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. bang tampilkan tugas filsafat terbaru dong, yang membuat 15 pertanyaan …. tks

  2. Wew tulisan yang dalam dan lumayan berat😀

    Thanks udah berbagi ^^

  3. karya berkwalitas.gmana sich cara mudah memahami filsafat ????….di tunggu jwabannya loh?!!!??tanks wawasannya…

    • kalau menurut LUDWIG wittgenstein ” ketika mengajarkan filsafat ke anda, saya seperti seorang pemandu yang sedang menunjukan bagaimana menemukan jalan di london…seorang pemandu yang buruk”….

      intinya kadang seseorang yang lebih bisa memahami filsafat itu sendiri menurut kadarnya masing2…karna orang yang mengajarkan filsafat bisa saja lebih buruk daripada org yg di ajarnya…

      he3x..selamat berfilsafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: