Accepted: Sekolah Perlawanan dari anak-anak terbuang

Pedidikan sekolah dari SD sampai SMA seolah didesain untuk mempersiapkan anak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Belajar di perguruan tinggi kemudian menjadi sebuah keharusan. Tidak melanjutkan ke perguruan tinggi seolah merupakan aib, tidak hanya bagi anak tetapi juga bagi orangtua.

Accepted, film komedi yang disutradarai oleh Steve Pink, merupakan kritik terhadap perguruan tinggi dan sistem pendidikan yang mengabaikan hak anak-anak yang dianggap kurang “pintar”.

Film ini mengambil latar pendidikan di Amerika Serikat. Setelah lulus SMA, Bartleby Gaines (Justin Long) menghadapi kenyataan pahit tidak diterima di satupun universitas yang ia lamar. Ia berusaha meyakinkan ayahnya bahwa ia dapat menjadi orang tanpa harus menjadi sarjana. Akan tetapi kedua orangtuanya berpendapat lain. Ia harus meneruskan ke perguruan tinggi.

Karena tidak ingin mengecewakan orangtuanya, ia iseng-iseng membuat surat panggilan yang menyatakan ia diterima masuk di sebuah perguruan tinggi. Ia menamai universitas itu South Harmon Institute of Technology yang disingkat dengan nama SHIT. Untuk meyakinkan orangtuanya, ia meminta seorang temannya membuatkan website universitas gadungan yang ia karang berafilisasi dengan perguruan tinggi elite di Ohio, Harmon College. Sekalipun sempat ragu akan keberadaan universitas itu, ayah Gaines memberikan chek kepada anaknya untuk biaya kuliah selama satu semester. Bersama beberapa kawannya, ia menyewa sebuah bangunan rumah sakit jiwa sebagai kampus. Tanpa diduga, universitas tipu-tipuan itu didatangi puluhan anak muda yang ingin menjadi mahasiswa. Mereka adalah anak-anak muda yang kehilangan identitas hanya karena tidak berstatus sebagai mahasiswa.

Gaines sempat hendak mengurungkan menjalankan tipu dayanya. Akan tetapi karena universitas gadungan itu menjadi satu-satunya harapan puluhan anak-anak sebayanya yang ditolak di mana-mana, ia mengurungkan niatnya. Universitas itupun berjalan liar. Dari suasana yang serba chaos muncullah sebuah pertanyaan yang menjadi senjata ampuh untuk memulai sebuah proses pendidikan. Apa yang ingin kamu pelajari? Pertanyaan ini rupa-rupanya mengejutkan bagi hampir semua mahasiswa. Rupa-rupaya selama ini sekolah tidak pernah menanyakan keinginan anak.

Bertolak dari pertanyaan itulah mereka belajar sesuai keinginan masing-masing. Murid adalah guru. Guru adalah murid. Semua boleh belajar sesuai kehendak masing-masing. Kurikulum hanyalah sebuah papan tulis yang diisi oleh mahasiswa tentang apa yang ingin dipelajari. Ada yang ingin menjadi juru masak, ada yang ingin menjadi rocker, menjadi gadis model, dan lain-lainnya. Akan tetapi ketika komunitas belajar itu mulai berjalan baik, ketika semua peserta didik bebas mengekspresikan kreativitasnya, kedok universitas gadungan itupun terbongkar. Universitas itu ditinggalkan oleh mahasiswanya pada saat orangtua mahasiswa mengunjungi kampus tersebut.

Di tengah frustrasi, Gaines mendatangi kampus yang telah ditinggalkan mahasiswa. Di antara setumpukan surat, ia menemukan sebuah surat panggilan untuk menghadiri sidang akreditasi dari Badan Akreditasi Ohio State. Gaines bersemangat lagi dan meminta dukungan kawan-kawan dekatnya untuk menghadapi sidang itu.

Ternyata sidang itu menjadi sebuah momen yang istimewa. Semua mahasiswa, sebagian didampingi orangtuanya, datang sehingga sidang harus dipindahkan ke aula. Di sinilah terjadi perdebatan menarik antara Gaines yang didampingi Ben Lewis (Lewis Black) yang berperan sebagai dekan di universitas itu. Lewis adalah seorang genius yang dipecat sebagai dosen perguruan tinggi dan guru karena perilaku dan pandangan-pandangannya yang dianggap tidak lazim.

Dalam perdebatan sengit di persidangan Dekan HarmonCollege menyebut bahwa kurikulum yang disodorkan SHIT tidak lain hanya sebuah lelucon. Ia malah menuduh Gaines sebagai seorang kriminal. Akan tetapi Gaines berhasil membuat pidato yang menawan dengan mengritik sistem pendidikan konvensional.

“Andalah seorang kriminal karena Anda telah merampok kreativitas dan antusiasme anak-anak. Inilah kriminal yang sesungguhnya,” ujar Gaines.

Ia mengatakan mempertanyakan apakah pendidikan yang ada telah mengajarkan kita untuk mengikuti hati nurani ataukah justru sekadar mencari jalan aman. Apakah hasil pendidikan telah memberikan apa yang kita inginkan karena mungkin saja kita ingin menjadi penyair, cenayang, artis, atau berkeliling dunia?

“Hidup penuh dengan banyak kemungkinan,” kata Gaines.

Film ini mengingatkan kita bahwa sekolah tidak seharusnya untuk mereka yang pintar atau berinteligensia tinggi. Sekolah harus ruang yang terbuka bagi semua bakat untuk berkembang. Sebelum kita menjejali anak didik dengan segala macam ilmu dan pengetahuan, kita mestinya memulai pekerjaan kita kepada anak: apa yang ingin mereka pelajari …

intinya bagi para pendidik wajib tonton filem satu ini

(wis)

sumber disini

Posted on 27/08/2010, in Education. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: