Proyek gagal bernama RSBI, anda masih berminat?

Saya masih ingat sekali beberapa rapat-rapat yang saya lalui bersama rekan-rekan guru disekolah saya tempat mengajar, bahwa jika ada siswa yang berhasil masuk RSBI maka itu adalah sebuah kebanggan yang patut dirayakan, untuk itu disiapkanlah beberapa program – program untuk mendukung hal tersebut. Bahkan hal ini menjadi target yayasan sekolah yang seharusnya lebih cermat dalam memahami sejarah program RSBI sejak awal.

“Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) itu bak mahluk Yeti.” demikian kata seorang konsultan RSBI pada sebuah simposium sekolah bertaraf internasional yg diadakan oleh British Council di Hotel Atlet Century Jakarta pada 9 Maret 2011 yg lalu.

Kebenaran Statistik

Kini semua makin terbuka dengan dilakukan sebuah penelitian yang kompherensip terhadap adanya program RSBI dengan sekolah reguler. Bahkan, dalam beberapa skor penilaian, termasuk Bahasa Inggris yang seharusnya menjadi keunggulan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), siswa dan guru di sekolah reguler lebih unggul.

Dalam sumber di Kompas hal ini terlihat di jenjang SMP di mana skor Bahasa Inggris siswa RSBI 7,05, sedangkan siswa reguler 8,18. Guru Bahasa Inggris di SMP juga punya skor yang lebih tinggi, yaitu 6,2, dibandingkan dengan guru RSBI yang 5,1. Ini juga terjadi pada guru Bahasa Inggris di jenjang SMA. Selisih skor nilai-nilai antara siswa RSBI dan reguler umumnya di bawah 1 dari skor 0-9. Hal ini terjadi karena, dari kajian, guru-guru sekolah reguler justru mempunyai skor yang lebih baik dari guru di RSBI.

Ambil contoh, guru SMA reguler ternyata lebih unggul dalam skor di mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Bahasa Inggris. Di Matematika hampir sama. Kemampuan pedagogi guru juga tidak jauh berbeda.

Bahkan, di SD, skor pedagogi guru sekolah reguler lebih unggul. Di jenjang SMP juga berbeda kecil, kecuali di SMA yang perbedaannya lebih dari 1 poin. hasil statistik ini menggambarkan bahwa tidak ada yang perlu dibanggakan dalam program RSBI

Korupsi Dana

Permasalahan korupsi juga tidak bisa dilihat sebelah mata dalam proyek ini, kenapa? karena pemerintah menyalurkan begitu banyak uang demi lancarnya program dan dana lebih kecil kepada sekolah-sekolah reguler. Penyimpangan dana ini juga terjadi pada kesalahan alokasi dana seperti terjadi pada sekolah SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi terkait pemanggilan kepala sekolah dan para guru oleh beberapa instansi hukum berkaitan dengan dugaan korupsi dana block grant RSBI, dana BOS, dan dana BOP pada 2007, 2008, dan 2009.

Ternyata tinggi alokasi dana yang digelontorkan pemerintah ke sekolah RSBI tidak menjadikan pungutan keorang tua siswa berhenti, para siswa tetap di wajibkan membayar SPP setinggi langit agar dapat mengenyam sekolah “londo versi lokal” tersebut. Aneh memang tetapi nyata.

Penjaminan Akhlak

Tengoklah kasus yang menimpa  SMKN 3 Pare-pare. Sebuah  adegan video mirip olah raga tinju bebas di perlihatkan antara dua siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri SMKN 3 Kota Pare-Pare. Padahal sekolah ini merupakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Atau yang terjadi pada sekolah SMP Negeri 1 Sukoharjo dimana para siswa RSBI tertangkap tangan sedang melakukan pesta miras.

Walaupun data yang saya uraikan dalam tulisan ini memang kurang secara statistik tetapi memang terbukti bahwa pengembangan akhlak dalam sekolah RSBI tidak diberikan porsi yang optimal. Penggunaan bahasa Inggris yang minim membuat  guru makin “keteter”  sehingga ini menjadi masalah sendiri dalam tata kelola kelas dimana guru tidak seluwes biasanya seperti yang terjadi pada sekolah reguler. Pada sekolah reguler guru akan lebih mudah memberikan nilai positif kepada siswa dan tidak terbentur masalah kebahasaan.

Hanya Sebuah “Casing”

Ibarat RSBI kini seperti menaiki gerobak dengan casing mobil mewah. Ya..dengan fasilitas mewah bak hotel bintang 5 kelas dibuat sehebat mungkin seperti AC, TV LED, kamera CCTV dll, tetapi minus dalam hasil kwalitas siswa. Keluhan-keluhan siswa yang akhirnya berujung pada kegagalan pembelajaran dianggap sesuatu yang tidak perlu di pertanyakan, adanya  guru sudah ada sebelum program RSBI dilakukan menjadikan guru tersebut diharuskan tiba-tiba menjadi “guru super” atau “guru instant”  dimana seorang guru harus segera” jago bahasa” dengan waktu yang terbatas. Hal ini lalu dibaca oleh lembaga bimbel sebagai sebuah proyek baru.

Pemilihan guru RSBI yang rata-rata CPNS bahkan menggunakan jasa calo CPNS tidak bisa diandalkan sebagai motor pengerak RSBI, hal ini bebeda dengan pihak swasta yang lebih mengontrol pengadaan guru sesuai dengan tujuan sekolah dan bisa melakukan pemecatan jika guru dianggap kurang.

Kini setelah fakta-fakta terbaru terbongkar, apalagi setelah gugatan RSBI telah masuk ke mahkamah agung kita berharap program RSBI ini ditinjau kembali atau solusinya setidaknya membiarkan pihak swasta kembali memegang program ini. tidak seharusnya sekolah-sekolah negeri yang sudah didukung dengan dana pemerintah kembali menarik dan memaksakan program entah berantah ini. Dan bagi teman-teman saya , semua kepala sekolah, semua yayasan sekolah harus meninjau kembali dan harus lebih cerdas dalam membuat keputusan untuk menargetkan siswaya untuk masuk ke sekolah RSBI.

semoga.

salam blogger

Posted on 09/03/2012, in Education, evaluation and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. bgmn dgn kmi yg sdh mengikuti semua prosedur2 dan ujian2 RSBI yg amat2 susah…?

    jdi semua itu sia2…

    • Sebetulnya dibilang sia-sia juga tidak. pertama memang RSBI dapat memacu kemampuan siswa tetapi menurut beberapa analisis hal itu hanya terdapat pada pemahaman kebahasaan saja. sedangkan disekolah lain siswa dan guru dengan leluasa melakukan eksplorasi pelajaran tanpa beban bahasa.
      yang kedua RSBI sekolah negeri membuat jurang pemisah dengan sekolah yang reguler. siswa2 miskin yang mampu tidak bisa bersekolah dengan kuota yang lebih besar. berbeda dengan sekolah swasta RSBI seperti Global dll yang memang menjadikan uang sebagai persyaratan utama.
      so..buat keena tetap saja dulu bersekolah di RSBI kamu…toh nanti juga akan ada solusi untuk semua ini…thanks ya sudah mampir

  2. saya adalah salah satu siswa RBSI.. sudah cukup banyak artikel terkait rsbi yang saya baca dan itu semua membuat saya semakin dilema, saya sudah terlanjur di kelas RSBI, rasanya saya ingin keluar dari kelas ini, bagaimana yaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: