Ketika cobaan itu bernama UN

Ibarat sebuah paradoks, seseorang akan dianggap manusiawi ketika diuji dengan ujian yang setara dengan kemampuan dirinya. Tetapi sayang tidak banyak orang yang mampu melewati ujian ini dengan baik yang ada justru hilangnya batas nalar kesadaran atas kenyataan dirirnya sebagai manusia. inilah yang persis terjadi ketika profesi guru bertemu sebuah ujian bernama Ujian Nasional. Ujian nasional yang sebetulnya adalah sebuah indikator dari evaluasi output siswa dianggap sebagai sebuah ujian yang “maha dahsyat”, ujian yang juga dimaknai sebagai sebuah pertaruhan akan harga diri dan nama baik sekolah, sebagai bentuk pencitraan atas eksistensi sebuah sekolah dimata warga publik sekitar.

Inilah yang terjadi beberapa hari yang lalu pada ujian nasional 2012. Beberapa rekan menuturkan bahwa telah terjadi kecurangan-kecurangan disana-sini baik yang tidak disengaja maupun disengaja.

Kasus pertama.

Disebuah sekolah SDN Jati***** di daerah Kota Bekasi seorang rekan menuturkan bahwa sekolah (red: pihak sekolah sd tersebut) memasifkan kepada siswa agar pada saat mengisi lembar jawaban diusahakan siswa cukup membulatkan jawaban tipis-tipis, hal tersebut tidak berlaku pada pengisian data pribadi, anehnya bahkan sampai batas waktu habispun pembulatan jawaban yang dikumpulkan siswa tetap dalam keadaan tipis. Aneh memang! , makin parah lagi ternyata pengawas ujian tidak diperkenankan menempel plester ujian (2 lembar yang berwarna putih). Dugaan penulis adalah itu dilakukan agar pihak sekolah bisa melakukan koreksian terhadap jawaban yang salah, sehingga sekolah dapat mengganti jawaban yang benar.

Kasus Kedua

Masih disebuah sekolah dasar di kota Bekasi, pada saat UN SD 2012 kemarin. pihak sekolah meminta kepada pengawas ujian agar diperbolehkan selesai lebih awal yaitu sekitar pukul 09.30 (dari yang seharusnya pukul 10.00). yang aneh pula pengawas diperbolehkan pulang sebelum waktunya. Saya menilai kecurangan ini disengaja agar ada jeda waktu 30 menit agar pihak sekolah melakukan “sesuatu” untuk mengamankan nilai ujian sekolah. Ironis memang.

Kasus Ketiga

Disebuah SDN Bojongk***** di Kab Bogor ada pengawas yang mengatakan kepada penulis bahwa penyegelan lembar soal tidak diperkenankan dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah saat itu beralasan bahwa biarlah pihak sekolah yang melakukan penyegelan lembar jawaban. Analisis penulis semakin menguat karena pada saat bersamaan datanglah beberapa guru sekolah tersebut (mereka tidak datang diawal) yang besar kemungkinan sebagai “eksekutor” lembar jawaban siswa.

Kasus Keempat (klik disini)

Di sebuah sekolah SMP Islam di Kab Bogor yang terbukti dan menyakinkan telah melakukan kecurangan dengan cara meminta siswa-siswa yang berkatagori pintar untuk memberi jawaban kepada siswa lain. Hal ini dilakukan pihak sekolah karena atas dasar kemungkinan tidak lulusnya siswa tersebut yang berkategori tidak pintar).

Lemahnya UPTD Kita

“Polisi pendidikan” ya kata-kata itu mungkin yang tepat kita tujukan kepada UPTD atau Unit Pelaksana Teknis Daerah. merekalah yang seharusnya menjadi monitoring dalam pelaksanan pendidikan ditingkat kecamatan, sehingga bisa meminimalisir kecurangan yang ada. Tetapi pada kenyataanya apa yang saya dengar dari beberapa rekan kepala sekolah mereka justru menyatakan bahwa UPTD justru menjadikan skolah ibarat “Money Walking “, dimana ada uang yang harus sering disetorkan kepada pihak UPTD.

Bahkan dalam kasus UN saja ada kepala UPTD yang menghimbau agar kepala sekolah “meredam” pengawas-pengawas , sehingga walaupun ada kejadian “luar biasa” (kecurangan UN) pengawas tidak perlu menulisnya dalam berita acara ujian.

Tiga Faktor kelemahan.

Dalam persepsi tulisan ini saya menilai ada tiga faktor lemahnya kesadaran guru dalam menghadapi situasi ujian nasional, pertama ini bisa dikarenakan sekolah tidak secara masif melakukan persiapan untuk ujian. yang kedua sekolah gagal memodernisasi pemikiran dan gaya mengajar serta ke tiga adalah ambisi  pasif yang berkaitan dengan gengsi.

Pada Faktor pertama alasan pihak sekolah (dalam hal ini guru) melakukan kecurangan karena tidak berjalannya startegi pembelajaran yang matang, terkoordinir dan strukutral. Dalam beberapa opsi seharusnya sekolah bisa mengadakan beberapa try out persiapan dan pematangan soal berdasarkan indikator. Hal ini juga bisa menjadi alasan sekolah karena gagal melihat output (kemampuan siswa awal) . ketidak berdayaan sekolah melakukan assessment pada tiap murid menjadi sebuah trigger skenario kecurangan yang sistematis.

Faktor kedua adalah sekolah gagal melakukan modernisasi pemikiran dan gaya belajar. maksudnya sekolah telah gagal menstranformasi kebaruan dalam proses belajar sehingga masih menjadikan gaya mengajar klasik sebagai acuan utama. dan menjadikan proses belajar berdasarkan untung rugi dan “yang penting kerja”. Banyak guru PNS yang berada dalam zona nyaman sehingga tidak mau memutahirkan ide dan gagasannya. Akhirnya sifat klasik ini menjalar kesiswa secara permanen dengan dalih walaupun mereka belajar seadanya nantinya pun sekolah yang akan “mengamankan” nilai mereka.

Faktor Ketiga adalah ambisi ingin menjadi terbaik dengan menghalalkan segala cara. Faktor ini bisa menjadi bentuk pengamanan yang “ilegal tapi legal” karena tekanan-tekanan yang di”atas” (UPTD). Sehingga jika ada hasil jeleknya pada ujian sebuah sekolah maka itu akan menjadi sebuah indikator kegagalan UPTD dalam membina sekolah. Ya ketakutan akan lepasnya sebuah “jabatan” sangat dimungkinkan dalam kasus ini. sehingga faktor inilah yang membuat hilangnya batas-batas nalar kemanusiaan dalam jiwa guru.

End of Education

Dalam sebuah buku yang berjudul End of Education karangan Neil Postmen (1995) dikatakan bahwa “At the moment, he says, education is geared toward economic utility, consumerism, technology, multiculturalism and other bogus objectives. Narratives such as these are incapable of providing a rich and sustaining rationale for public education” dimana saat ini pendidikan lebih ditunjukan pada hal yang bersifat ekonomi, konsumumsi  dan tujuan-tujuan palsu lainnya.

Apakah ini yang diharapkan dalam generasi-generasi kita sekarang dimana seorang guru seharusnya menjadi “The Right Man” dan bukan menjadi “The Wrong Man” dimana guru akan menghalalkan semua cara, mandul akan sebuah kesalahan. Semua skandal-skandal pendidikan yang kini berjalan tanpa ujung dan melibatkan oknum pendidikan ibaratnya sebuah pohon kangker dimana akarnya sudah masuk ke sendi-sendi urat nadi dan harus segera dibersihkan.

Kawan-kawan semua semoga kita tetap berdoa dan berharap semoga munculnya hati nurani dari guru-guru tercinta kita agar kembali kejalan yang benar, sehingga mereka bisa mampu melewati ujian-ujian yang sifatnya duniawi ini. Dan kita juga tidak berharap bahwa “end of education” semakin meluncur cepat dimasa kita.

salam blogger

Posted on 10/05/2012, in evaluation. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: