Ketika “resign” adalah sebuah keputusan

Kali ini, kedua kalinya saya keluar dari pekerjaan saya sebagai pengajar. Berat memang tetapi inilah kenyataan, beribu alasan menjadi penyerta dalam drama kehidupan ini. Dan entah kenapa, rasionalitas idealisme saya tidak berubah. Dulu ketika menyatakan keluar dari sekolah yang lama, penulis mempunyai pandangan yang berbeda dengan sekolah dan yayasan. Baik dari manajemen sekolah yang amburadul, penataan penggajian yang tidak adil, sampai “teror” psikologis yang dialami penulis dan rekan yang lain, sehingga kami kompak dengan belasan guru harus “hijrah berjamaah”.

Dunia belum berubah

Tetapi dunia ternyata belum berubah. Kepindahan penulis ke sekolah baru yang diharapkan lebih baik dari sekolah sebelumnya ternyata tidak seperti yang diarapkan, mismanagement, kelayakan fasilitas  yang notabene mengaku sebagai “sekolah unggulan” ternyata jauh panggang dari pada api. Ketidakmampuan mengelola sekolah dalam hal kurikulum & proses ajar sangat disayangkan mengingat personil guru yang seharusnya bisa dimafaatkan secara optimal. Penggunaan keuangan yang masif pun tidak bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Menghargai Guru (swasta)

Ya, guru adalah tulang punggung sekolah, dimana manusia-manusia ini harus dihargai dan layak diberi apresiasi. Guru bukanlah budak-budak yang harus bekerja 24 jam seminggu demi membangun kualitas anak tetapi dibayar dengan upah murah, ditambah dengan keminiman dukungan sekolah yang seharusnya bisa dibenahi. Hal ini banyak dialami oleh sekolah swasta yang berlevel “medium”. Banyak rekan-rekan penulis yang bekerja di sekolah swasta harus menikmati masa tua dengan serba kekurangan. Mereka ibarat “permen karet” yang habis manis sepah dibuang. Guru-guru swasta yang harus memikirkan masa depannya pada saat bersamaan. makanya tidak jarang banyak guru-guru swata yang harus menyambi bisnis lain demi menyambung hidupnya. Apakah kini saatnya harus diusulkan Jamsostek bagi guru swasta? (lalu apa bedanya guru dengan buruh pabrik?)

Idealisme vs dompetisme

Suatu hari dirapat terakhir guru sekitar tahun 2009 (guru-guru yang akhirnya memutuskan keluar serentak) penulis pernah menyatakan bahwa “idealisme tidak bia dibayar, kenyamanan akan berpengaruh dalam gerak dan langkah hidup kita, walaupun hari ini kita resign demi sebuah keyakinan, percayalah Allah akan selalu bersama kita dan kantung rezeki tidak akan pergi kemana”. Istri siapapun yang akan rela jika sang suami harus kehilangan pekerjaan, anak siapaun tak akan rela jika ayahnya tidak kembali bekerja, karena keluarga butuh “dompetisme” untuk mendukung daya hidup. Tetapi hal tersebut akan terlewati jika kita yakin akan kebenaran “idealisme”,  dan kita yang pasti akan mengalahkan ilusi “dompetisme”.  Sebagian pihak akan menghardik ” makan tuh idealisme lu! ” . Tetapi tidak bagi saya.

Saya tahu bahwa idealisme juga harus memerlukan reslisme . Idealisme dan sikap realistik bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain secara absolut. Tanpa adanya sikap realistik, idealisme hanya akan menjadi angan-angan utopis: bagaikan mimpi di siang bolong. Sikap idealis tanpa sifat realistis hanya akan menjadi bunga tidur dalam kehidupan yang tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa. untuk itulah saya akhirnya bergabung dengan sekolah yang baru ini , dimana semoga ada secercah harapan dan berkurangnya orang-orang yang kurang “bersabar dalam dunia pendidikan”

Adjie adnan di kompasiana pernah menulis bahwa perlu ada keseimbangan koheren antara sifat idealisme dan realistis agar menjadi manusia seutuhnya. Sikap realistis diperlukan untuk memahami dan menginsyafi kondisi riil di lapangan. Sedangkan sikap idealis diperlukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam realita. Tidak mungkin seorang manusia hanya mengikuti arus (realistis) selama-lamanya, atau hidup akan menjadi statis. Tidak mungkin juga seorang manusia hanya mengutamakan idealismenya semata dengan mengacuhkan realita kalau tidak ingin dikatakan seorang pemimpi.

Terakhir semoga keputusan penulis keluar dari pekerjaan lama dan masuk kedalam dunia pendidikan yang baru nantinya dapat menjadi pelajaran beharga bagi penulis dan sekolah yang ditinggalkan, bagi sekolah yang penulis tinggalkan semoga segera memulai prinsip “kejujuran” dalam menjadi pengelola pendidikan dan jangan menjadikan nafsu elitis sebagai jalan pembenaran hal-hal yang bertentangan dengan dunia pendidikan. Selamat tinggal kawan selamat tinggal murid-muridku, semoga kita dapat bersua lagi.

Salam blogger

Posted on 16/05/2012, in renungan. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. mantap pak. Semoga sukses. Amiiin…🙂

  2. hihi…. baca tulisan pak fajar yang ini jadi seperti nostalgia ke masa-masa dimana keputusan tersulit harus diambil untuk kebaikan bersama…..

    satu hal yang aku inget banget pak fajar di rapat terakhir kita waktu itu, pernyataan dari salah satu guru (aku lupa siapa yang ngomong waktu itu), bahwa kita harus memerangi kedzaliman dalam bentuk apapun. Bila pun ternyata kita tak mampu, setidaknya kita tidak membiarkan kedzaliman itu merajalela dengan tetap disana. Hidup hijrah!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: