Pendidikan Yang Kleptomania

Negara ini dibangun atas dasar niat luhur para pendiri bangsa. Ketika para founding father kita merumuskan perjuangan dalam bentuk intelektual maka dilakukanlah sebuah rancangan garis besar dengan garda terdepan pendidikan berbasiskan moral dan intelektual.Akhirnya tahun 1922 Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau yang dikenal taman siswa didirikan sebagai bentuk perlawanan bangsa Indonesia atas otoriteran bangsa Belanda.

Tetapi kini 90 tahun kemudian, sekolah yang seharusnya menjadi kelanjutan taman siswa justru bermetamorfosis menjadi sebuah sekolah dengan paradigma yang berbeda. Pendidikan yang kian mahal, pendidikan yang absurb, inkulturisasi, pendidikan yang bermuka dua dan yang pasti pendidikan yang kian menyedot kantung-kantung orang tua siswa dengan tujuan yang “jelas” bermotif kapitalisme.

Sekolah agama (uang)

Tidak heran kini muncul wajah-wajah sekolah yang banyak mengatas namakan agama tetapi sangat jauh dengan nilai agama itu sendiri, para guru tak ubahnya buruh-buruh pabrik yang bekerja lebih dari 24 jam seminggu tanpa ansuransi kesehatan dan masa depan yang pasti. Pada saat bersamaan pemilik sekolah terus mengkampanyekan bahwa sekolahnya lebih baik  dari sekolah lain , lebih bermoral ketimbang sekolah lain, lebih islami ketimbang sekolah lain, seakan-akan sekolah ingin mengirimkan pesan kepada orang tua siswa bahwa sekolahnya seolah-olah dapat menjamin siswanya akan masuk syurga tanpa hisab.

Pada saat bersamaan sekolah terus menerus menggerus kantung-kantung celana orang tua murid sampai sedalam-dalamnya, sampai tidak ada lagi yang tersisa. Ironisnya, kadang fasilitas yang ada dan kampanye2 syurga itu selalu tidak berbanding lurus dengan kenyataan, banyak guru-guru yang berada disekolah “mewah” akhirnya harus ditendang keluar karena tidak berhasil bekerja dalam tekanan. Banyak orang tua murid yang akhirnya menelan kekecewaan karena janji palsu sekolah yag tidak kunjung datang (baik janji pengadaan fasilitas, kenyamanan belajar dan lain sebagainya).

Para guru-guru yang bekerja tanpa kenal lelah pun ibarat “roda” yang harus terus diputar, dengan dogma-dogma agama yang harus ditranfer ke siswa demi menjamin program-program sekolah.Tetapi ironisnya kadang guru-guru juga harus menelan kekecewaan bahwa kerja keras mereka tidak diimbangi dengan kelayakan yang sepatutnya, dan dengan enteng pihak sekolah yang berjiwa kleptomania akan mengatakan “ini jihad guru terhadap perubahan”

Sekolah interasional

Tidak berbeda dengan sekolah yang banyak menjajakan dirinya dengan label agama. Sekolah yang mengaku berstandar internasional (saya menyebutnya inter-irasional ) pun harus dipertanyakan. Uang berjuta-juta yang ditransfers oleh orang tua murid ternyata hanya menjadi pembangunan fisik semata, hal ini bisa dibuktikan dengan masih adanya siswa RSBI yang tidak lulus UN 2012 (kli disini), dan fakta membuktikan bahwa siswa yang lulus UN (muniarti) dengan peringkat terbaik justru bukan dari kalangan RSBI.

Pembangunan sekolah berdasarkan uang demi mengejar status internasional jelas-jelas menodai sejarah pendidikan Indonesia. Pembangunan fisik bergaya hotel bintang 5 jelas tidak berbanding lurus dengan kemampuan siswa. Siapakah yang diuntungkan ? jelas adalah para vendor-vendor yang siap memakan proyek, dan bukan rahasia lagi pasti ada sebagian pihak sekolah yang menikmati dari pergerakan transfer uang-uang tersebut.

Kembali Kejaman Inlader

Anda menyebutnya mereka sebagai pemangku kebijakan sekolah, tapi saya menyebutnya sebagai komprador atas nama pendidikan. Anda sebut mereka intelektual pendidikan sekolah yang selalu necis dengan dasi kapitalisnya , tetapi saya sebut mereka sebagai tikus-tikus yang baru saja berganti kaus. Mereka para kleptomania didunia pendidikan harus segera menyingkir dari sistem pendidikan Indonesia, karena ulah mereka banyak terjadi pemborosan yang seharusnya tidak terjadi. Mereka ibarat Penjajah Inlader yang terus memaksa sistem tanam paksa bagi jajahannya

Sekolah yang bermuka dua kadang sangat manis didepan dan masam dibelakang, mereka ibarat leasing kendaraan yang terus menerus menjanjikan kemudahan kridit sehingga kita terlena, tetapi mereka akan berubah menjadi ganas (seperti debt collector) jika kita terlambat membayar uang sekolah. Mereka para sekolah kleptomania tidak akan segan men-cap siswa yang terlambat membayar uang sekolah (upeti). Mereka juga tidak segan memperlambat proses kelulusan jika ada siswa yang menunggak uang administrasi, karena bagi mereka orang tua murid adalah lumbung uang yang segar dan harus dipotensikan, dan tidak ada tempat bagi siswa miskin.

Sayangnya kini sedikit para orang tua murid dan guru-guru yang menyadari pembodohan massal ini. Demi sebuah status sekolah mereka menjelma antikritis terhadap sesuatu hal yang seharusnya bisa diperjuangkan. Bagi mereka, keberhasilan anak dalam pembelajaran tidak masalah walaupun jalannya dengan cara yang tidak benar.

Akibatnya demi membayar mahalnya ongkos pendidikan maka sekolah tidak akan segan-segan me”murk up” nilai siswa  sehingga nilai anak menjadi tinggi, seorang anak tiba-tiba berkualitas seperti Einstein dalam hitungan jam. Bagi sekolah yang kleptomania hal itu adalah biasa mengingat banyaknya uang dan hadiah yang selalu di gelontorkan kepada pihak sekolah.

Penutup

Diakhir tulisan ini penulis ingin mengajak kepada pembaca untuk bergerak melawan fenomena ini,baik pemerintah, penggiat pendidikan dan pemilik sekolah. Sudah seharusnya pendidikan kita berangsur-angsur membaik dari sebelumnya. Sekolah bukanlah ladang ekonomis semata, tetapi sekolah adalah sebuah pengabdian dari krisis sumber daya manusia. Janganlah siswa-siswa kita, walimurid kita, guru-guru kita dikorbankan demi sebuah penimbunan kekayaan perseorangan semata. Sudah saatnya kita bahu membahu meneruskan semangat Kihajar Dewantara dengan niat tulus membangun pendidikan. Modernisasi pendidikan adalah sebuah hal yang mutlak tetapi menjadikan modernisasi sebagai alat pengeruk keuangan serta munculnya orang-orang sok tahu akan dunia pendidikan justru akan menghancurkan dunia pendidikan itu sendiri.

saatnya melakukan perubahan. salam blogger!

Posted on 04/06/2012, in Education, renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: