“Hantu” itu bernama UKG !

Entah kenapa belakangan ini disekolah saya para guru sibuk belajar dan mengulang kembali pelajaran disekolah padahal sebelumnya jarang sekali pemandangan ini terjadi, selidik demi selidik ternyata hal ini berkaitan dengan rencana ujian kompetensi guru bagi guru bersertifikasi awal. Ya! kini UKG ibarat hantu yang membuat sebagian guru tidak bisa tertidur dengan tenang.

Seperti yang kita ketahui bahwa UKG dilakukan untuk meningkatkan Profesionalisme guru  melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kode etik profesi. Pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui upaya peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan dan diperuntukan bagi semua guru baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Sehubungan dengan itu, uji kompetensi guru (UKG) dilakukan untuk pemetaan kompetensi, pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) dan sebagai entry point penilaian kinerja guru (PKG). Dengan demikian UKG bukan merupakan resertifikasi atau uji kompetensi ulang maupun untuk memutus tunjangan profesi.

Mempertanyakan skill guru

Dibeberapa kesempatan saya banyak melihat gejolak sebagian guru, bahkan ada organisasi guru  yang menolak  UKG ini sebagai bentuk ketakutan yang berlebih. Faktanya  UKG ini sangat menampar muka guru yang selama ini terlena dengan posisinya dan tidak pernah sekali-kali meng-upgrade skill, bagaimana dengan guru yang sudah bersertifikat ? itu pun bukan menjadi jaminan, karena kita ketahui sebagian guru bersertifikat pada gelombang pertama disinyalir banyak melakukan pemalsuan pada portofolio. Bahkan menurut sumber ada oknum guru yang berani membayar 5 juta demi memalsukan portofolionya sendiri, lalu bagaimana dia bisa mencapai nilai sempurnya jika selama ini hanya kepalsuan yang ada. UKG ini pun menjadi “efek domino” bukan hanya ke guru secara personal tetapi juga kepada lembaga guru yang aktif  ditingkat kecamatan, dimana kita ketahui bahwa minimnya program pembinaan pendidikan yang seharusnya dilakukan kepada personal guru. Tidak terlepas juga pihak UPTD , pengawas sekolah dll yang seharusnya menjaga intelektualitas kognitif guru ternyata tidak mampu berperan banyak dalam praktiknya. Godaan kekuasaan dan uang bisa saja menjadi faktor “amnesia”  pihak-pihak tertentu untuk tetap menjaga intelektual guru.

Kuantitas tidak sebanding kualitas

Kepala Badan Pengembangan SDM dan Penjamin Mutu Pendidikan Syawal Gultom mengatakan, rasio jumlah guru berbanding jumlah peserta didik di Indonesia merupakan yang “termewah” di dunia. Rasio di Indonesia, ungkapnya, sekitar 1:18. Angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan negara maju seperti Korea (1:30), atau Jerman (1:20). Tetapi pertanyaannya adalah apakah jumlah guru yang besar seperti ini berbanding lurus dengan kemampuannya? lalu apakah nilai UN tinggi ditiap sekolah juga mewakili tingginya kemampuan guru mengajar disekolah tersebut? dan pertanyaan selanjutnya apakah besarnya biaya pendidikan disekolah mampu meningkatkan derajat skill guru tersebut. Jawabanya belum tentu. Pada ujian UKG hari pertama dan kedua kemarin saya banyak mendengar bahwa rata-rata nilai guru hanya berada diangka 40-an. Bahkan menurut hasil dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  hasil ini cukup memprihatinkan. Rata-rata nilai UKG 2012 gelombang pertama nasional adalah 4,5 dalam skala nilai 10. Untuk nilai rata-rata tertinggi dipegang oleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai 6 hingga 7.

Sedangkan Jawa Timur memegang peringkat 1 untuk mata pelajaran Kimia dengan nilai rata-rata 7. Dari sekitar 300 ribu guru yang ikut UKG gelombang pertama itu hanya ada satu guru yang memperoleh nilai di atas 9, berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun ada yang mendapat nilai diatas 70 (seperti yang terjadi pada guru SD di kota Bekasi) tetapi kurva pencapaian nilai sangat mencolok,  mengerikan bukan!

Sistem penilaian UKG

Seperti kita ketahui bahwa uji UKG ini ada yang berlaku online dan manual, dari fakta dilapangan UKG ini memang masih ada kelemahan. Saya yakin bahwa UKG ini sama seperti yang saya lakukan sewaktu mengambil data penelitian (kebetulan saya kuliah dijurusan penelitan dan pendidikan) bahwa sampel data yang akan diambil untuk melihat pemetaan kemampuan dasar guru, tetapi melihat fakta dilapangan dimana peserta UKG mengeluhkan banyaknya soal yang salah, saya melihat adalah lemahnya panitia UKG untuk melakukan validitas instrumen pengujian butir soal yang tidak sempurna. Padahal seharusnya pembuatan butir soal UKG ini harus sama seperti pembuatan soal UN dimana para pembuat soal harus melakukan uji kepakaran terhadap beberapa soal agar soal lebih bermutu dan berbobot. Dan lebih parahnya lagi ditambah banyaknya server komputer yang bermasalah, hardware lab yang rusak  serta rendahnya pengetahuan peserta UKG dalam menggunakan ujian melalui media komputer. Bahkan dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh beberapa teman banyak guru yang “teriak-teriak” karena tidak berfungsinya mouse & keyboard.

Kenapa harus takut dengan UKG ?

Jika kita mau melihat profesi lain seperti dokter, dalam rangka mempertahankan kualitas profesi dokter mereka juga mempunyai standar Uji Kompetensi Dokter Indonesia atau yang disingkat UKDI, bahkan di Jepang maksimal tiga kali dokter diberi kesempatan mengikuti uji kompetensi dan jika gagal maka dicabutlah profesi dokternya, hal ini dilakukan agar dokter-dokter dijepang benar-benar bekerja distandar pengetahuan yang diinginkan. Saya melihat UKG ini memang harus dijadikan ajang untuk tetap membuat guru-guru Indonesia lebih bermutu. Bagi guru-guru yang merasa sudah “tua” seharusnya tidak perlu takut terhadap UKG karena naif jika kita terus menerus menyerukan agar murid kita selalu belajar dan memperbaiki diri sedangkan dirinya sendiri dibiarkan “busuk” perlahan-lahan. Setidaknya dengan UKG ini membuat para guru kembali membuka buku, kembali bernostalgia dengan pelajara-pelajaran dahulu sehingga tetap “hangat”. Setidaknya UKG tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan.

 Salam Blogger!

Posted on 03/08/2012, in Education and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Pa fajar, kayanya soal yang dibuat lalu diujikan ke guru belum layak dilaksanakan, masih banyak salah ketik, ada lebih dari satu jawaban yang sama, ada soal yang tidak jelas maksudnya apa. Sepertinya soal tidak diujicoba dulu, bahkan yang ngetiknya kurang profesional, masih ada sepuluh per empatpuluh lima diketik menjadi oktober-45 heheheh. Coba kita selidiki tuh dan blow up terus tuh soal UKG tidak reliable, tidak valid dsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: