Pentingnya Teori Belajar Konstruktivisme Dalam Pembelajaran

active-learningKali ini saya akan membahas bagaimana pentingnya salah satu teori belajar untuk mendongkrak kemampuan matematik logik siswa dalam pengaruhnya dipembelajaran. ya salahsatu teori belajar tersebut adalah teori belajar Kontruktivisme. teori ini sendiri dikembangkan oleh vygotsky. Teori konstruktivisme sendiri adalah salah satu dari banyak teori belajar yang telah didesain dalam pelaksanaan pembelajaran termasuk turut serta dalam pengembangan kurikulum berkharakter yang kini menjadi tren di topik pendidikan Indonesia saat ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa teori belajar dibagi 3 yaitu Teori belajar Kognitif, Teori belajar Behavioristik, Teori belajar Gestalt, Teori belajar Humanstik dan  Teori belajar Konstruktivistik

Pada dasarnya teori konstruktivisme sebetulnya mempunyai dua aliran yaitu:

1. Aliran pertama “Kontruktivisme psikologi/radikal” yang lebih bersifat personal, individual dan subjektif , teori ini di bangun oleh Jean Piaget dan pengikutnya. menurut Rosalind Charlesworth 1996 beliau mengatakan

“Piaget placed an emphasis on childeren as intellectual explorers making their own discoveries and contructing knowledge indenpendently”

piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan (hamzah;2001). bahkan piaget menambahkan bahwa manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata yang sering disebut dengan struktur kognitif. dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi (nik aziz, 1999; rusdy, 2001).

Lalu apakah Asimilasi, asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang dapat mengintergarsikan informasi (perspsi, konsep dan sebagainya) atau pengalaman baru kedala struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang.  contohnya seorang anak yang sudah hafal perkalian ketika mendapatkan sebuah rumus volume balok yaitu V=p x l x t tidak mendapat masalah dalam hal mengkalikan 3 angka sekaligus.

Sedangkan akomodasi yaitu proses mental dimana proses penstruktur skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. (hamzah, 2001). Saya menyebutnya kendala dalam belajar yang berbeda-beda dari siswa. faktor usia, genetis dan kekurangan minat belajar ada dalam ranah ini.

2. Aliran kedua “Kontruktivisme Sosial” . Aliran ini bersifat sosial dan dipelopori oleh Lev Vygotsky. beliau menekankan bahwa interaksi interpersonal membantu memperkembangkan pengetahuan individu. teori inilah yang menjadi dasar pembelajaran rekan sebaya atau setutor. Bagi vygotsky perkembangan kognitif ini bermakna menyelesaikan masalah dengan kerjasama individu yang lain. (Rosalind Charlesworth, 1996).

Prinsip Asas Kontruktivisme

Dalam buku kontruktivisme pengajaran dan pembelajaran matematik dikatakan bahwa teori belajar Kontruktivisme mempunyai dua prinsip asas yang mempengaruhi corak pelaksanaan pendidikan matematik di sekolah-sekolah yaitu:

1. Pengetahuan bukannya diterima secara pasif tetapi dibina secara aktif oleh pihak yang belajar

2. Fungsi kognisi adalah untuk menyesuaikan dan memberi khidmat mengorganisasi dunia pengalaman, dan bukannya melakukan penemuan realiti ontologi (keberadaan sesuatu yang kongkret).

oman2

Terlihat sangat dramatis memang, tetapi inilah yang memang diharuskan. Menurut Ng Kim Choy, 1999 guru seharusnya melakukan strukturisasi pelajaran dengan mencabar pelajar dan membantu pelajar menyadari kerelevan kurikulum pada kehidupan mereka. Mungkin hal inilah yang menjadi pemicu kurikulum berkharakter dengan memposisikan pelajaran sesuai dengan kaidahnya.

Dalam paradigma kontruktivisme, murid seharusnya menganggap peranan guru sebagai salah satu sumber pengetahuan dan guru bukan orang yang tahu segala-galanya, tetapi guru seharusnya menjadi fasilitator dan pembimbing bagi murid.

Ciri-ciri pembelajaran berdasarkan teori belajar kontruktivisme melalui empat tahap (hamzah, 2001):

1. Tahap persepsi dimana guru harus mampu mengembangkan konsep awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa

2. Tahap eksplorasi. pelajar diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan , pengorganisasian dan pengintreprestasian data dalam suatu aktifiti yang idenya berasal dari guru

3. Tahap perbincangan dan penjelasan konsep. disini pelajar memikirkan penjelasan dan menyelesaikan yang didasarkan pada hasil pemerhatian dengan bimbingan guru sehingga pelajar dapat membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari

4. Tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Disini guru membimbing pelajar membuat rfeleksi dan perbandingan ide lama dan ide baru sehingga dapat membuat pelajar mengaplikasikan pemahamam konseptual baik melalui kegiatan atau yang lainnya.soal kontr

Semoga berguna. Salam blogger!

sumber :

Efandi zakaria,Norazah moh nurdin dan  Sabri ahmad ; kontruktivisme pengajaran dan pembelajaran matematik,  Utusan publication & distributors SDN BHD

thanks untuk Pak Oman…

Posted on 04/12/2012, in assessment, Education, evaluation and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Reblogged this on Guarda Group – Make your life Useful ! and commented:
    Pentingnya pembelajaran ini sejak dini bisa jadi salah satu pendukung perkembangan anak. Saya suka posting ini. Terima kasih dan tetap semangat … ^_^

  2. cukup membantu memenuhi tugas kuliah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: