Catatan Liar Kepala Sekolah (cerpen)

Headmaster“Aku tidak menyangka sekolahku kini berubah, rasanya baru kemarin aku berkenalan dengan kepala sekolah yang cerdas, jujur dan mengayomi. Tapi kini semua berubah termasuk rencana untuk menjadikan sekolah ini ladang amal soleh didunia. Perpindahan kepala sekolah yang baru ini tidak seperti yang terbayang sebelumnya, saya sempat menyangka ia adalah orang yang baik, jujur dan berpendidikan, kuliah sampai S3 kenegri “Tuan Takur” pun ia lewati, saya saja baru menamatkan s1 di UT dekat rumah”. Intinya kami kalah level dengan pengetahuan beliau.

“Hari itu kami semua dipanggil mendadak, kami berjejer seperti ikan cue perpaket yang siap dijual kepasar. Kami semua terdiam seakan jam dinding pun enggan bedetak,  Kepala sekolah baru ini ternyata membuat beberapa peraturan baru yang menurut kami tidak masuk akal, mulai masuk sekolah diubah dari yang biasanya pukul 7.00 menjadi pukul 08.00. Lalu jadwal kepulangan sekolah yang biasanya pukul 12.30 dimajukan pukul 12.00 dan yang aneh lagi ia meminta kepada bendahara keuangan sekolah kami untuk mengalokasikan 20% uang BOS untuk dimasukan ke rekening beliau, dahsyat!.

“Kepala sekolah saya yang baru ini memang mempunyai paras rupawan, dia selalu berkata “ini adalah anugrah terindah yang diberikan Yang Maha Kuasa kepada ku”. Narsis memang, banyak isu-isu yang saya dengar dari orang-orang tentang kepala sekolah saya yang baru ini, termasuk katanya  beliau mempunyai banyak “istri simpanan” kataku dalam hati, kok mau ya jadi istri disimpan ? saya kadang curiga “waduh…jangan-jangan anggaran sekolah ini “dimakan” juga untuk membiayai istri-istrinya itu”.

Rasa penasaran saya kini menjadi-jadi, saya mulai bertanya pada diri sendiri, kok bisa ia menjadi kepala sekolah ditempatku ini?. Akhirnya rahasia ini  bisa aku ketahui dari “orang dalam” UPTD yang kebetulan teman ku merantau saat berangkat dari Makasar. Menurut kawanku ini  untuk menjadi kepala sekolah disebuah sekolah ada tarifnya. Ibarat restoran cepat saji dimana ada rupa maka ada harga, jika ingin mendapatkan sekolah yang “gemuk” maka seorang calon kepala sekolah harus membayar setoran kepada UPTD lebih besar dari pada “sekolah kurus” ha2x aku tertawa ketika temanku bilang hal ini. Lalu aku bertanya lagi berapa biaya yang dibayarkan (kepala sekolahku) untuk jadi pimpinan disekolahku, ia mendelik dan memberi isyarat 2 jari kanan dan 5 jari terbuka ditangan kirinya. fantastis 250 juta!

8 bulan tidak terasa sudah sejak kepergian kepala sekolah lamaku itu, saya mendengar karena kekritisan beliau ia malah ditaruh disekolah bermutu rendah didaerah  terpencil yang jarak antar rumahnya dengan sekolah dinasnya bisa menghabiskan 3 jam perjalanan, menurut saya ini bukan mutasi tetapi “pembunuhan sistematis”. Memasuki bulan ke 9 kami kembali dipanggil mendadak oleh kepala sekolah, kali ini agendanya adalah beliau meminta kami untuk “mengamankan” nilai UN. Saya terkejut, hati seperti diubek-ubek ,setahu saya dahulu kami tidak terbiasa bermain dalam hal seperti ini, karena kecerdasan siswa memang tidak bisa diseragamkan.

Akhirnya rapat itu memutuskan bahwa kami diminta membetulkan jawaban yang salah bagi soal yang dikerjakan siswa. Kami pun diancam dimutasi jika kami membocorkan rapat ini. Waduh sangat dilematis, mengingat istriku yang kini hamil 7 bulan dan sebentar lagi kami butuh banyak dana untuk biaya persalinan, aku tidak mungkin berani mengatakan tidak kepada kepala sekolahku daripada nantinya aku diembargo ekonomi, hufff!!!

2 tahun berlalu, aku selalu berdoa semoga cobaan ini segera berakhir, saya seperti menunggu ramalan raja Jayabaya yang tak kunjung tiba atau seperti lirik Dewa 19 yaitu cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi sepertinya hari itu tiba, sebuah mobil kijang plat merah tidak-tiba berdenyit didepan sekolah yang saat itu masih menunjukan pukul 08.00 pagi. Beberapa orang diantarnya masuk kegerbang sekolah dengan sregap dan tegap. Murid yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melongo seperti  seseorang yang baru sja ditolak cintanya. Lalu mobil kedua kembali datang dan terlihat 3 orang polisi berlari kecil menuju kantor kepala sekolah kami. Dan Bruk!! bag!! suara keras muncul dibalik ruangan itu. Kami semua para dewan guru tidak berani melihat apa yang terjadi disana. 3 menit kemudian keluarlah kepala sekolah kami dengan borgol ditangan dan diapit 3 polisi tadi, sedangkan beberapa orang yang masuk diawal tadi terlihat sedang membawa file-file dan berkas lalu diangkut kedalam mobil kijang.  karena penasaran aku mencoba melirik sebuah logo yang tertempel di jas beberapa orang tadi. kaget tercampur haru mereka ketika saya membaca Komisi Pemberantasan Korupsi dilogo tadi. Suka dan bercampur haru seperti orang yang baru saja mendapatkan gaji selama bertahun-tahun tidak dibayarkan …inilah yang kami tunggu, Allah maha tahu….

Pagi itu dengan kain sarung lusuh yang masih menggulung dan secangkir kopi hitam di meja, istriku membawakan sebuah koran ibukota, sambil malas saya coba membaca Headline hari itu, Sabtu 12 Juni 2013 “PULUHAN KEPALA SEKOLAH DAN UPTD YANG TERLIBAT KORUPSI DIGULUNG KPK”.

the end.

* ini cuma fiksi jika ada kesamaan tempat nama itu hanya kebetulan biasa…so tetap tenang.

maklum masih newbie bikin cerpen…

salam blogger

Posted on 06/12/2012, in Education, Jokes, renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Cerpennya Bagus, Pak. Saya sampai terkesima membacanya. Larut dalam konflik yang dirajut. Namun, mulai keliatan ada yang janggal ketika membaca tanggal koran yang dibaca di akhir cerpen. Haha…ternyata hanya fiksi. Salut, Pak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: