Proyek RSBI penghinaan martabat negeri…

vsTahukah anda jika negara kita adalah negara dengam urutan ke 68 negara termiskin di dunia ? faktanya kita semua tahu. Tetapi ironisnya pemerintah seakan menutup mata bahwa kesenjangan sosial masyarakat bukan berasal dari rendahnya tingkat pendidikan bangsa tetapi dari takdir dan kerja keras setiap individu. sehingga masyarakat harus dilepas disebuah konteks persaingan yang makin tidak adil diera yang modern seperti ini. RSBI atau entahlah namanya adalah sebuah penyediaan layanan yang mirip masa penjajahan belanda dimana pada tahun 1914 dan hanya berlaku bagi anak-anak bangsawan dan aristocrat.

Kembali ke Era Penjajah

Dengan berdalih demi meningkatkan mutu pendidikan Indonesia di era globalisasi pemerintah membangun kasta tertinggi pendidikan yang hanya bisa diakses oleh sebagian masyarakat Indonesia, mereka diwajibkan bersyarat berkalangan “atas” dengan sumbangan yang begitu besar tidak hanya itu pemerintah malah mensubsidi sekolah dengan dana ratusan juta rupiah tiap tahunnya, disisi lain para kaum miskin “cuma” diberikan kuota 20 % kurang itupun dengan syarat yang begitu rumit yaitu “pintar luar biasa”.  Lalu apa bedanya dengan sekolah era penjajah dimana hanya kaum bangsawan ,pejabat kolonial belanda dan pribumi kaya yang boleh sekolah milik belanda. Sedangkan kaum pribumi miskin? mereka cukup menjadi budak tanam paksa dikebun-kebun belanda.

Sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, secara umum sistem pendidikan khususnya system persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau lapisan (kelas) social yang ada dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku waktu itu, diantaranya:

  1. Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs)
  2. Pendidikan lanjutan = Pendidikan Menengah
  3. Pendidikan Kejuruan (vokonderwijs )
  4. Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)

Bahkan untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:

a)      Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.

b)      Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.

RSBI yang menyekik kantong

Setelah kini RSBI dinyatakan inkonstitusional oleh MK pada januari lalu, khususnya  pada pasal 50 ayat 3 UU sistem Pendidikan Nasional ternyata kita belum bisa bernafas lega, karena pemerintah terlihat berencana menjadikan istilah “Sekolah Mandiri” sebagai upaya ganti baju RSBI  yang baru. Jika hal ini dilakukan maka kita sebagai pendidik akan melakukan gugatan kembali kepada MK . RSBI memang bukan sekolah murah lihat saja bagaimana sekolah di Semarang dimana beberapa orangtua siswa mengakui, menyekolahkan anak ke sekolah RSBI untuk sumbangan pendidikan saja, tiap siswa kena iuran kurang lebih Rp 3 juta sampai Rp 5 juta, tergantung kemampuan orangtua siswa.

Belum lagi, sumbangan sarana dan fasilitas sekolah yang ditarik iuran ketikaditerima sebagai siswa baru di kelas X rata-rata siswa dipungut Rp 2,5 juta hingga Rp 5,5 juta. Pembayaran iuran dapat diangsur paling lama 5 bulan. Bahkan pada awal masuk sekolah setiap tahun, sekolah RSBI setingkat SMA sudah merangcang rencana anggaran belanja (RAB) untuk menambah fasilitas dan sarana di sekolah bervariasi. Mulai dari RAB sebesar Rp 5 miliar hingga lebih Rp 10 miliar. Dana besar itulah yang dibebankan pada orangtua dengan pembagian sebanyak siswa yang diterima. lain lagi dijakarta sekolah RSBI tergolong amat mahal mahal, Retno (ketum forum guru) mencontohkan SMAN 70, Bulungan, Jakarta Selatan, yang uang bulananya Rp 1 juta dan uang masuk Rp 12,5 juta. Lainnya lagi adalah SMAN 81, Jakarta Timur uang bulanannya yang Rp 500 ribu per siswa memang lebih rendah, tetapi uang pangkalnya mencapai 15 juta.

Keberpihakan pemerintah mengundang tanya

Rata-rata alokasi 200 juta yang digelontorkan pemerintah ke sekolah RSBI memang mengundang tanya, mengapa begitu banyak uang yang diberikan tetapi tidak sebanding dengan alokasi sekolah non RSBI. Uang sebesar itupun akhirnya dianggap belum kurang sekolah karna masih saja sekolah meminta iuran dengan memakai kaki tangan komite sekolah. Uang sebesar itu  ternyata lebih banyak digunakan untuk fasilitas seperti LCD, AC , sewa rutor dari luar negri dan berjuta-juta fasiltas wah lainnya. itu belum cukup untuk siswa yang masuk harus diseleksi dengan ketat yaitu pintar dan kaya, pengalaman yang ada bahkan ada test wawancara orangtua murid bagi siswa yang masuk. syarat kedua (yaitu kaya) dianggap lebih penting karena bagi mereka orang bodoh dengan lingkungan yang baik akan membentuk siswa pintar.

Jika memang sekolah eks RSBI khususnya negri harus dicabut segala fasilitas itu sudah resiko, kalaupun mereka harus merasakan hal yang sama berpanas-panas ria dengan jutaan siswa Indonesia yang lain. Inilah kebersamaan yang memang dulu dihilangkan secara paksa. alternatif kedua adalah pemerintah harus sama dalam menggenlontorkan dananya untuk sekolah-sekolah diIndonesia , bayangkan jika setiap sekolah diIndonesia mendapat dana besar dengan sistem keamanan keunagan yang ketat maka seluruh sekolah Indonesia adalah berlabel RSBI. inilah impian anak indonesia.

pemerintah kurang peka dengan hal ini, menteri bahkan pejabat diknas harus diseret dan bertanggung jawab akan masalah ini akar pemasalahan yang tidak sesuai dengan aplikasi pelaksanaan akhirnya hanya menjadi sejarah memilukan pendidikan di Indonesia. Nantinya sejarah mencatat suatu masa pernah bangsa Indonesia melakukan penjajahan diskriminasi pendidikan tersistematis kedua setelah penjajahan Belanda. sekali lagi penghinaan martabat negeri…

salam blogger

Posted on 09/01/2013, in Education and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: