Kemendiknas dibawah bendera reformasi, maukah berubah?

kilTemuan inspektorat jendral kemendiknas dibawah pimpinan Haryono Umar bahwa terjadi penyalahgunaan wewenang dan anggaran ditubuh departemen yang mengurusi dunia pendidikan ini cukup tidak mengejutkan, sebelumnya banyak kasus-kasus rusuah (baca : korupsi) yang melibatkan kemdiknas berakhir di “bawah meja”. Barulah ketika pada Januari 2013 lalu KPK melakukan penyidikan kasus dugaan korupsi pengelolaan anggaran di Inspektorat Jendral Departemen Pendidikan Nasional Tahun Anggaran 2009 dengan tersangka utama mantan Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Pendidikan Nasional M Sofyan.

Rusuah di kemendiknas bukan hal baru

Sebelumnya kasus terbaru di bidang pendidikan yang melibatkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Angelina Sondakh menjadi contohnya. Angelina, bekas ratu kecantikan yang kemudian beralih profesi menjadi politikus, dinyatakan bersalah karena menyelewengkan anggaran negara tahun 2010-2011 untuk proyek-proyek universitas di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang saat itu bernama Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Angelina divonis empat tahun enam bulan penjara karena menerima suap senilai total Rp2,5 miliar dan USD1,2 juta dari perusahaan konstruksi, Grup Permai.

Publik juga sempat bertanya-tanya ketika M.Nuh bersikeras mempertahankan dana perubahan kurikulum 2013 sebesar Rp 2,4 triliun, publik juga akan menghubung-hibungkan dengan kasus korupsi dengan mark up angaran yang tidak sesuai dengan bugdet.  Publik yakin bahwa dana 2,4 T ini pasti ! akan masuk kepada para makelar dan tender-tender palsu  yang terus berseliweran di Kemediknas, seperti pada kasus Even Organizer Stuppa pada acara-acara formal Kemendiknas yang melibatkan seorang Wamen. Walaupun akhirnya terjadi revisi anggaran pada Kurikyulum 2013 sebesar Rp 684 miliar, dari nilai itu tahukah anda, artinya kita telah menyelamatkan uang rakyat sebesar 1,7 T

Mencari figur mentri yang tepat

Menurut hemat saya, saya berpendapat mentri pendidikan yang terbaik di Indonesia adalah Kihajar dewantara, yang akhirnya dapat menanamkan format pendidikan kelas yang sekarang ini, sedangkan sisanya (tanpa mengurangi rasa hormat) hanya menjadi pengikut dan tidak melakukan pembaharuan gradual berkesinambungan dan ter-target. malah pada jaman Daud Jusuf terjadi degradasi pendidikan dimana kaum muda harus jauh dari nilai sosial masyarakatnya.

Kini 60 tahun sudah, kita tidak beranjak maju, M Nuh yang nota bene nya seorang eks rektor ITS dan tidak berafiliasi pada partai justru terjebak pada lingkaran setan sistematis dan gurita korupsi yang bertahan lama dikementriannya, Ternyata M. Nuh bukan seperti Leonidas 1 yaitu seorang raja Spartan (dalam film 300) yang hanya menggunakan 300 prajuritnya untuk melawan musuh dan berhasil mengubah paradigma dalam mempertahankan eksistensi kerajaannya oleh persia. Dan ternyata M. Nuh juga bukan Richie Robert (dalam film American Gangster) seorang polisi amerika yang berhasil membongkar praktek korupsi dan suap rekan2 sesama polisinya  atas mafia-mafia narkoba di NewYork.

Menunggu Reformasi ditubuh Kemendiknas

Kini publik menunggu pemilu 2014 yang setidaknya akan melahirkan kebijakan baru khususnya dunia pendidikan, kita juga bisa mengacu pada beberapa tokoh pembaharu yang setidaknya menjadi tokoh yang patut ditiru dalam hal mendobrak sistem lama, Jokowi misalnya.  Mentri yang baru nanti harus bisa bertranformasi secara naluri “kejokowian”, misalnya mentri baru nanti menggandeng KPK untuk melakukan pengawasan disetiap mata anggaran kemendiknas, lalu kemediknas baru nanti harus mengeluaran Kartu Indonesia Pintar Indonesia (KIPI) yang akan dibagikan kepada setiap siswa-siswi rakyat Indonesia,  dimana setiap sekolah negri dan swasta dinegri ini harus wajib menerima siswa -siswa secara gratis bahkan sampai jenjang Universitas seperti yang terjadi di Jerman, anggaran pendidikan gratis sampai universitas bisa dijadikan prioritas dengan melakukan prioritas subsidi silang pada beberapa keuntungan negara. termasuk Menteri yang baru nanti juga tidak asal melakukan percobaan kurikulum baru, sehingga siswa-siswi tidak menjadi korban.

belajar1 copy

selain itu menteri baru nanti harus menjadi pelopor reformasi di departemen yang mengurusi masa depan rakyat Indonesia ini, menteri yang baru nanti harus berani “mengamputasi” atau “menumpas habis” secara massal pada setiap lini pegawai yang terindikasi korupsi. Menteri yang baru nanti juga harus bisa bersinergi dengan kelompok-kelompok guru di kota dan pedalaman atau setidaknya berkunjung melihat permasalahan krusial dibawahnya. Menteri yang baru nanti juga tidak boleh berjas dan bermobil mewah ketika masih ada “oemar bakri” negri ini yang hidup dengan uang Rp 50.000/bulan. Menteri yang baru nanti juga tidak boleh berkoar-koar di forum-forum internasional bahwa indeks pendidikan negara Indonesia naik sementara masih ada sekolah yang masih bersebelahan dengan kandang sapi dimana siswa harus menahan bau kotoran setiap belajar disana.

Pertanyaannya, maukah mereka berubah?

salam blogger…

Posted on 05/06/2013, in Education, renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: