Bunda Putri… Bergesernya Emansipasi Wanita

20131010bunda putri - luthfi hasan ishaaq (tribunnews com - tempo co) bBeberapa minggu ini media kita di ramaikan dengan fenomena Bunda Putri yang misterius. Saking misteriusnya belum ada yang bisa menemukan siapakah sebetul-betulnya bunda putri tersebut, apakah hanya seorang makelar biasa atau ibu-ibu dari kalangan lingkaran istana atau hanya ibu-ibu arisan yang cuma hanya cari sensasi. Bahkan SBY pun sempat “marah-marah” dalam konferensi pers yang lalu karena LHI menyebutkan bunda putri ada didalam lingkaran kekuasaan (baca-istana)

Fenomena penyebutan kata “bunda” yang biasanya hanya ada di drama-drama radio dan televisi serta arti kata bunda yang menurut saya lebih hangat ketimbang “ibu” kini harus mengalami “bug” yang serius. Saya yang biasa memanggil istri saya bunda kadang menjadi tidak menjadi khusuk.

Tetapi jika kita mau menilik sejarah bawah bunda putri bukan saja “striker utama” dalam fenomena korupsi berjamaah di negara agraria ini. Sebelumnya ada nama lain yang sudah dahulu bersimbah kasus korupsi seperti Wa Ode Nurhayati, Angelina Sondakh, Miranda Goeltom, dan Nunun Nurbaeti. Sedangkan diluar negeri ada Janet Lim-Napoles dari Philipin dan Elba esther gordillo dari Mexico

Tetapi ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa seharusnya banyaknya perempuan yang berdiri dalam posisi pemimpin dalam sebuah negara harusnya tingkat korupsi menjadi berkurang. Dalam sebuah artikel di situs Avaaz.com dikatakan  studi Bank Dunia tahun 1999 menemukan bahwa untuk setiap kenaikan titik standar deviasi pada wanita di kantor publik adalah diatas 10,9 persen, maka tingkat korupsi menurun 10%. Walaupun data ini memang harus dibuktikan lebih lanjut. Lebih lanjut Bank Dunia mengatakan bahwa negara-negara dengan lebih banyak perempuan dalam posisi kekuasaan memang cenderung kurang korup .Tapi tren ini mungkin memiliki lebih berkaitan dengan sistem yang transparan dan akuntabel tata kelola dalam sebuah negara.

Tetapi sayang ini Indonesia, negara yang begitu mudah melupakan sejarah, dan sebuah negara yang sangat kompromis dengan korupsi. Sehingga resiko yang kecil ini (yaitu 4 tahun penjara bagi koruptor) adalah resiko yang masih wajar, mungkin inilah yang membuat para wanita indonesia menganggap ini sebuah “tantangan” biasa dari bergesernya nilai moral emansipasi. Lihat saja banyak kaum perempuan kita yang begitu bangga ketika keluar dari pemeriksaan KPK. Maka wajar para wanita-wanita tersangka utama korupsi itu juga akan mudah terlupakan.

Kini wanita tidak hanya menjalankan 3 tradisi : Dapur, Kasur dan Sumur yang dulu menjadi perjuangan Kartini, tetapi kini diera keterbukaan profesi para wanita ini kadang menginginkan sesuatu yang lebih. Hasil sadapan KPK bagaimana dialog antara LHI dan Bunda Putri benar-benar menunjukan powefullnya bunda putri ini. Bahkan untuk masalah resuffle saja dia lebih mengetahui dibanding mentri kabinet yang lain.

Tetapi walaupun begitu kuat pengaruhnya bunda putri dalam hiruk pikuk makelar transaksi kotor perekonomian bangsa ini tetaplah dia seorang “bunda”, seorang ibu yang hangat bagi anak-anaknya…bukankah ia juga tidak mau anak-anaknya mengikuti jejak dirinya jika jadi tersangka nantinya? inilah resiko bergesernya emansipasi wanita…

 

 

Posted on 12/10/2013, in renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: