Buku Kurikulum 2013 ini “membodohi” saya

k13Kalimat satir ini sepertinya cocok dialamatkan kepada panitia penyelenggara Kurikulum 2013 khususnya jenjang SD dan sederajat, bagaimana tidak ? kurikulum baru yang katanya dianggap kurikulum revolusi pengajaran terbaik ini justru menjadi revolusi kelam dunia pendidikan Indonesia saat ini. Disana sini terdengar nyinyir kicauan masyarakat berbagai lapisan kalangan profesi pendidikan dengan tingkat intelektual yang beragam. Saya tidak membayangkan bagaimana raut muka John Dewey jika melihat bagimana amburadulnya pelaksanaan pengajaran versi tematik yang dulu pernah digagasnya. Salah satu hal yang membuat kurikulum 2013 tingkat SD harus ditinjau kembali adalah buku pegangan siswa dan guru.

Buku dan peradaban

Seperti kita ketahui bahwa buku sangat penting bagi sebuah peradaban dan kemajuan sebuah bangsa, pentingnya sebuah buku bagi Robert B. Downs (2001) dalam bukunya “Books that Change the World” ia mengatakan bahwa sepanjang sejarah dapat kita temui bukti bertumpuk-tumpuk yang menunjukkan bahwa buku bukanlah benda yang remeh, jinak, dan tak berdaya, malah sebaliknya buku seringkali adalah biang yang bersemangat dan hidup, berkuasa mengubah arah perkembangan peristiwa yang kekuatannya tak terhingga, kadang-kadang demi kebaikan dan ada pula demi keburukan atau bentuk penjajahan baru (neocolonialisme). Beberapa buku atau kitab pengubah sejarah; kitab-kitab suci, Il Principe karya Niccolo Machiavelli, Common Sense karya Thomas Paine, Wealth of Nations karya Adam Smith, Essay on the Principle of  Population karya Thomas Malthus, Das Kapital karya Karl Marx, Mein Kampf karya Adolf Hitler, Principia Mathematica karya Sir Isaac Newton, Die Traumdeutung karya Sigmund Freud, Origin of Species karya Charles Darwin, dan Relatitity karya Albert Einstein.

Buku Kurtilas

Tetapi apa yang kita lihat dari buku pegangan siswa dalam kurikulum 2013 ternyata buku ini jauh dari ekspetasi harapan besar untuk jalur perubahan pendidikan di negara ini. Dari mulai proses percetakan yang sungguh memalukan nama bangsa sampai materi isi yang benar-benar dipaksakan. Saya akan ambil salah satu contoh kekurangan yang terdapat di buku tematik kelas 5 tema 2 .Pada materi IPA mengenai masalah air, lalu soal IPS mengenai industri dll masih terdapat pendangkalan wacana. sama sekali buku tidak menjelaskan secara utuh materi. Guru akhirnya mau tidak mau disibukan masalah penguatan materi di kelas atas apa yang ada dibuku. Jika guru hanya berpatok pada langkah-langkah pembelajaran pada tiap PB di setiap sub tema maka dapat di pastikan pembodohan wacana akan berjalan sangat panjang.

Pada pelajaran matematika, buku sangat minim contoh bahkan hampir tidak sama sekali materi latihan. dengan durasi waktu yang pendek saya yakin proses latihan soal matematika yang terbatas justru akan membuat  proses pembelajaran tidak semasif seperi pada KTSP sebelumnya, termasuk ketiadaan buku LKS dan buku penguat lainnya. Apalagi kadang guru harus segera beranjak ke materi berikutnya dan akhirnya mengorbankan penguatan materi selanjutnya . Bagi guru yang kreatif maka mereka akan membuat kumpulan latihan soal terkait agar tercapai kompetisi dasar serta indikator. Masalahnya bagi beberapa guru ini akan memakan waktu yang panjang, apalagi kini tidak ada buku pendamping buku tematik, kalaupun ada hanya dari Bupena dan soal-soal di internet. Minimnya latihan soal ini kadang tidak sejalan dengan konsep aspek pengetahuan dan keterampilan yang akan dinilai. Dulu janji pemerintah guru akan lebih mudah mengajar menggunakan buku tersebut, tapi nyatanya buku tersebut justru mendorong guru melakukan banyak pencarian model soal untuk memperkuat materi ajarnya.

Buku Ini Salah Konsep

Ada beberapa guru yang bilang konsep tematik ini akan membuat siswa lebih aktif, guru lebih santai? anda yakin? Biar saya jelaskan, ada hal yang juga penting dari bagaimana memberi pengalaman pembelajaran model tematik, tematik sendiri seharusnya lebih menguatkan siswa agar mendapat pengalaman proses belajar dan lebih berusaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan perkembangannya. Saya melihat konsep dasar tematik ini justru meleset dan tidak terdapat dalam buku tersebut. Walaupun ada banyak proses pengamatan tapi ujung-ujung tema tersebut malah membuat guru harus lebih banyak membuka materi lebih “lebar” dari pada yang dijelaskan dibuku. Hal ini bisa dilihat dari pelajaran IPA mengenai efek polusi yang minim penjelasan. Efek polusi sebetulnya bisa dikembangkan seperti terjadinya hujan asam misalnya, tetapi buku tematik ini sekali lagi justru miskin wacana. Akhirnya alih-alih ingin membuat siswa jadi lebih aktif tapi justru guru yang harus banyak mencari sumber lain.

Akibatnya buku ini justru “memaksa dan menyiksa” para pegiat pendidikan baik guru, para penilik bimbel untuk meraba materi apa sebetulnya yang diinginkan dalam buku tematik tersebut. Buku ini ibarat senyum lukisan Monalisa yang tak jelas apa makna dibalik senyumnya. Buku ini abstrak seperti para orang dibelakang layar konsep kurtilas ini. Akhirnya terjadilah dimana para guru dan penggiat melakukan multitafsir sendiri-sendiri baik dari pemilihan tema inti dan proses pelaksanaanya. Pada saat yang sama para pengkonsep tematik satu persatu cuci tangan. naif! tunggulah nanti pasti akan muncul pembangkangan kurikulum.

Pelan tapi pasti buku yang seharusnya menjadi indikator untuk perbaikan kebodohan sistematis pendidikan indonesia justru menjadi senjata makan tuan dalam kurikulum ini. Lepas tangannya para tender buku karena harga yang murah disinyalir mengapa para penerbit “malas” mempercepat pengadaan buku menjadi tambahan puzzle dari sekian masalah buku kurikulum 2013 tematik tingkat SD. Yang untung justru para penerbit “liar” seperti terjadi di Kwitang Jakarta.

Akhirnya buku ini yang seharusnya membuat saya lebih pintar justru membuat saya semakin “bodoh”. serius!

Bagaimana dengan anda?

 

 

 

 

 

 

sumber

http://fkip.untan.ac.id/p-buku-perubah-peradaban.html

 

Posted on 04/09/2014, in Education, filsafat and tagged , , . Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. dewi masyita

    ITU pula yang terjadi pada saya bang fajar…

  2. Benar sekali saya setuju dengan pendapat anda.

  3. iya, bener banget bang,setuju dengan pendapat panjenengan……

  4. Setuju banget sama Bang Fajar…. kurikulum 2013 makin ga jelas. Anak2 bukan makin pintar tp makin pusing. Anak saya kls 5 dan saya ketemu bbrp kesalahan di buku paketnya. Semoga cepet diganti kurikulumnya dg yg lebih bagus.

  5. Saya sangat setuju sekali dengan pendapat anda, terlebih boleh saya tambahkan selain molor terbitnya buku guru dan siswa, juga suplai/distribusi yang sama sekali tidak memahami georafis indonesia. kalau dulu sekolah tidak tidak direpotkan dengan mencari/menebus buku tetapi (sangat lancar dan berlebih) antara perbandingan siswa dengan ketersediaan buku. Kurtilas ini, buku harus dicari/ditebus ke kantor pos “terdekat” yang sekolahnya di wilayah kota, ok ! tapi bagaimana dengan saudara kita yang dipedalaman ? kepulauan kecil ?. ini semua menghambat. Kemudian secara konten, pada buku guru tema 1 sub tema 4 pembelajaran 5 pada kelas 5 sd, tolong lihat maving/jaring tematiknya apa tidak salah ? inikah produk dalam negri yang menjadi perubahan peradaban bangsa ? apakah tim analis cuma makan gaji buta ? benar sekali

  6. Setuju, Pak. Paling masalah selain matematika yang terburu-buru, tidak jelas, dan soal-soalnya aneh (saya hakkul yakin yang bikin buku bukan guru matematika tuh) Banyak buang-buang kertas dengan percakapan yang tidak ada artinya sementara materinya tidak ada. Buat math, kadang pembahasan melenceng jauuuuh jadi kita musti ngejelasin bahan yang gak terkain dari sebelumnya. Buat IPS, tema 2 sub tema 2 itu bikin bingung. Ini kok fotonya Edward Douwes Dekker etapi digabung Ki Hajar Dewantara dan Dr. Sutomo. Lah, salah, cuy! Harunya itu Ernest F. Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi, dong! Salah orang!

    Ngeselin banget!

    • Setuju banget dengan Bang Fajar! Ini pengalaman Saya sendiri ketika Anak Saya bertanya tentang soal matematika tematik. ketika Saya mencari “CONTOH” soal Dan jawaban nya Di buku tematik ternyata tidak ada? Saya yakin Anda bisa merasakan apa yang Saya rasakan pada saat itu . Apa yang harus Saya jelaskan kepada Anak Saya? Terus terang Saya merasa bodoh begitupun Anak Saya yang notabene, mohon maaf , rangking 1 dikelasnya. Dia terlihat bingung Dan sedih atas ketidak berdayaannya dalam memahami pelajarannya. Saya hanya bisa memendam kemarahan, kekesalan, kesedihan…. Saya sebagai orang tua belum tahu kepada siapa harus menyampaikan unek2 ini? Terkadang Saya seperti orang gila sampai berteriak teriak kepada istri Saya menyampaikan unek unek Saya itu … Terima kasih Bang Fajar!!! Salam Hormat!

  7. banget setuju…saya sebagai guru malah jadi merasa paling bodoh ya saat ini…saat menggunakan kurtilas, semua memng sama sajah judulnya meberikan pelajaran,bukunya ada,tapiiiii……….masya allah…isinya itu… bayangkan..anak murid kita sekarang sama tahun lalu sangat berbeda,mungkin nama2 upacara adat saja ga bakalan hapal,wahh pokonya saya ajah jd bingung,malah saya setiap ngajar pasti googling cari cari tambahan materi,karna terus terang disekolah saya buku paket dr bos hampir habis karna sobek akibat dipakai bertahun2 oleh anak2. blm lagi masalah penilaian….oh god…buanyaaaak….sekali.menyita waktu…banget..biasanyah seminggu ituh beres berikut rapotnya, sekarang ajah mid smtr 2 minggu ngolah nilai plus remed…ampyunnn…

  8. Setuju banget dengan Bang Fajar! Ini pengalaman Saya sendiri ketika Anak Saya bertanya tentang soal matematika tematik. ketika Saya mencari “CONTOH” soal Dan jawaban nya Di buku tematik ternyata tidak ada? Saya yakin Anda bisa merasakan apa yang Saya rasakan pada saat itu . Apa yang harus Saya jelaskan kepada Anak Saya? Terus terang Saya merasa bodoh begitupun Anak Saya yang notabene, mohon maaf , rangking 1 dikelasnya. Dia terlihat bingung Dan sedih atas ketidak berdayaannya dalam memahami pelajarannya. Saya hanya bisa memendam kemarahan, kekesalan, kesedihan…. Saya sebagai orang tua belum tahu kepada siapa harus menyampaikan unek2 ini? Terkadang Saya seperti orang gila sampai berteriak teriak kepada istri Saya menyampaikan unek unek Saya itu … Terima kasih Bang Fajar!!! Salam Hormat!

  9. Intinya sih pembodohan masal…jelas sudah negara penghasil juara olimpiade Matematika dan Sains itu dari Indonesia dimana menggunakan KTSP 2006….eh malah diganti kurtilas yg katanya mengadopsi kurikulum luar dan mengacu sekolah swasta yg berbasis discover learning, project based learning, problem solving based learning. Mana bisa??? Pengalaman anak saya sekolah menggunakan kurikulum Singapore untuk Math & Science kualitasnya sangat kurang dibanding dengan teman temannya yg menggunakan kurikulum lokal ktsp 2006 di sekolah negeri…eh pas saya pindahkan ke sekolah negeri ex RSBI malah jadi sekolah percontohan pertama kurtilas…korban deeh… masa mau pindah lagi…udh kelas 5 😂😂😂

  10. yang buat buku pernah sekolah sd atu min ya

  11. siapa ya yang buat buku ……. apa pernah dia baca kemudian dihayati dimaknai ditrapkan dan di teladani……………………………………………………………..

  12. Saya juga seorang guru tapi sangat setuju dengan pendapat anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: