(Saat UN) “Guru Kok Gitu?”

kunci jawabanSelesai sudah pelaksanaan UN atau US 2015 diseluruh sekolah Indonesia, acara sakral yang sempat membuat anak-anak kita “kehilangan” masa muda sesaat dengan memperbanyak “drillisasi” pembelajaran. Selalu ada pembelajaran menarik yang bisa diambil dalam penyelenggaraan ujian ini, dari hal-hal yang sepele termasuk peran guru dan pimpinan sekolah dalam menyikapi ujian ini.UN atau US atau apalah namanya nanti memang bukan lagi momok standar kelulusan seorang siswa karena pada tahun lalu terjadi revisi kebijakan dari yang seharusnya menjadi satu-satunya syarat kelulusan kini berubah menjadi bagian dari beberapa point kelulusan. Walaupun begitu sayangnya nilai UN/US masih menjadi rangking untuk masuk kesekolah unggulan.

Tetapi saya masih mengamati adanya pola yang sama dengan kebiasaan para pendidik (Guru) Indonesia (walaupun porsentasenya kecil) dalam menyikapi pelaksanaan UN ini, ada guru yang tegak menghadapi dan ada yang tertunduk, ada yang tetap menjadi alim ulama tapi tidak jarang juga yang berubah menjadi bandit a.k.a begal.

Hilangnya Nalar Guru

Dipelaksanaan Ujian kemarin (US 2015)  banyak rekan saya melihat fenomena yang hampir tidak berubah. Saya tidak akan menunjukan sekolah tertentu (karena bukan rahasia umum), pertama ada mobilisasi yang sangat masif bagi para siswa dari oknum guru tertentu untuk mengkapitalisasikan kelulusan siswa dengan imbalan rupiah tertentu,  saya mendengar ada oknum guru yang meminta uang 2,5 jt bagi siswa yang akan diluluskan.

Tidak hanya itu, saat pelaksanaan UN/US rekan kami dilapangan melihat bahwa  siswa dan oknum guru tertentu sudah menyiapkan “strategi” bagaimana “menghadapi”nya. Dari mulai membuat kertas kecil kunci jawaban sampai koordinasi dikamar mandi.

Modusnya biasanya oknum guru akan meminjam soal dari pengawas, soal inilah yang nantinya akan di “olah” dan dibuat kunci jawaban lalu kemudian disebar kepada murid yang sudah sebelumnya melakukan kesepakatan soal nilai rupiah. Lucunya saat rekan kami melihat seorang siswa ketahuan membawa kunci jawaban dari kamar mandi sang siswa langsung menelan kunci jawabannya. Luar Biasa …, Hebatnya tim kami sempat memfoto kunci jawaban yang kami sita dari siswa tersebut.

kunci jawaban

ooo..oo…kamu ketahuan…

Hilangnya nalar guru memang sangat akut dalam kasus ini, ada beberapa desakan yang bisa memicu hilangnya nalar ini, pertama karena kebutuhan ekonomi , yang kedua yaitu gengsi sebagai intitusi sekolah atau persaingan antar sekolah. Jawaban rata-rata para oknum tersebut rata-rata seperti menyama ratakan semua sekolah, mereka mengganggap tidak ada yang bersih disemua sekolah atau “sok suci loh!”. Kepala sekolah yang seharusnya sebagai pemimpin tinggi revolusi pendidikan sekolah juga tidak bisa banyak berperan karena ya tadi ia juga kehilangan nalar berfikir.

Robot-robot baru

Kita sadar bahwa pendidikan adalah sebuah kerja besar membangun peradaban, Prof  Tilaar selalu berkata bahwa sekolah adalah perwujudan memanusiakan manusia. Dalam filsafat pendidikan seharusnya kita ditanamkan 3 hal dalam melihat permasalahan fenomena ini. Pertama fakta apa yang guru telah lakukan bagi para murid ini? kemudian apa latar belakang seorang guru bisa seperti ini ? dan terakhir diluar fakta dan latar belakang apa yang bisa tersirat dari guru-guru ini.

Pada kasus kecurangan ini kita tidak lagi membicarakan bagaimana seharusnya peran guru dalam mengawinkan (menjembatani) pendekatan pedagogic tradisional yang progresif (bersifat student center) dengan pendekatan pedagogic transformasional (bersifat cultural base) dalam proses pembelajaran yang menjadikan siswa bermakna bagi dirinya dan juga bagi lingkungannya. Atau bagaimana caranya Dalam pendidikan, kita mengajar siswa dengan 3 aliran utama yaitu aliran behavioristik, humasistik, dan kognitif ?…

Pemikiran guru-guru kita masih jauh dari upaya ilmiah untuk menjembatani proses transformasi pendidikan seperti yang saya tulis diatas, adanya kasus kecurangan ini menunjukan bahwa guru-guru kita masih “tradisional” ,masih konservatif dan tif-tif lainnya.

Bahkan kita hanya mencetak robot-robot baru dengan cara yang berbeda.

Harus bagaimana?

Lalu bagaimana caranya membangun sekolah yang kredibel, jujur dan berintgritas?. Kebanyakan sekolah yang melakukan kecurangan berbanding lurus dengan kemampuan mengajar gurunya. Beberapa guru senior selalu bertanya kepada saya. Mudah saja pertama komitmen perubahan sebuah guru harus dimulai dari dirinya, hal ini akan menyebar kepada rekan -rekannya dan menjalar bagi komunitasnya. Komitmen ini bukan cuma dalam masalah niat tapi juga proses perbaikan mengajar , kedisplinan dll. Banyak guru senior yang takut kritis gara-gara akan dimutasi sehingga keberaniannya pun pudar. Kedua kita harus mencetak guru-guru “beragama”, ingat ! bukan guru agama, karena banyak guru yang punya agama tapi tidak “beragama”, sehingga dengan nilai uang 2,5 juta ia rela menanggalkan baju agamanya. Hanya karena ingin sekolahnya bagus dilakukan dengan cara curang ia rela menjadi “kafir” untuk sesaat. Saya yakin dengan 2 cara mudah tersebut setidaknya masih ada perubahan bagi anak didik kita melalui para guru2 yang “bersih”.

Semoga kasus kemarin tidak terulang lagi, bahkan lucunya orang tua siswa sampai-sampainya bahu membahu membantu kecurangan siswa lewat pagar sekolah, mirip seperti yang terjadi di sekolah India. Kalau seperti ini guru yang layak menjadi “pesakitan”, kalaupun itu terus terjadi maka banyak yang akan berkata”Guru Kok Gitu?”

salam blogger

 

Posted on 22/05/2015, in Education, renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: