Mempertanyakan Kejujuran Nilai UN Dari Sisi Statistik

un1Akhirnya keluar sudah hasil UN atau US tingkat SD 2015, bagi sekolah yang rata-rata nilai tinggi menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah tertentu, dan bagi sekolah yang mendapat nilai bervariasi atau bahkan dengan rata-rata rendah bisa menjadi sebuah pembelajaran baru dan alat evaluasi kedepan. 

Tetapi pertanyaannya apakah dengan nilai rata-rata siswa tinggi tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara statistik Parametrik ? Apakah dengan nilai tinggi dapat menentukan kejujuran nilai secara matematis, apalagi jika terjadi dimana kumpulan nilai UN/US mengalami kondisi dimana tidak terjadi distribusi normal. lihat gambar dibawah ini. Gambar tersebut menjelaskan sebuah nilai normal membentuk kurva tertentu mengikuti distribusi garis normal.

distribusi normal

Mukhlis Samani dalam artikelnya mengatakan bahwa UN (ujian nasional) berfungsi sebagai evaluasi akhir suatu jenjang pendidikan dan diarahkan untuk mengecek daya serap terhadap kurikulum yang berlaku. Dalam bahasa lain, UN pada dasarnya ingin mengukur ketercapaian kompetensi sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum. Oleh karena itu soal-soal UN dibuat atas dasar isi kurikulum. Jika siswa menguasai seluruh isi kurikulum, maka seharusnya yang bersangkutan mendapatkan skor 100. Jika siswa menguasai 90% kurikulum seharusnya yang bersangkutan mendapatkan skor 90. Dengan demikian, jika proses pembelajaran berjalan dengan baik dan banyak siswa yang menguasai seluruh isi kurikulum, maka sebagian besar siswa mendapat skor 100 atau mendekati 100. Jika kondisi seperti itu digambarkan secara grafis akan membentuk kurva yang juling ke kanan. Artinya sebagian besar siswa berasa di sebelah kanan, yaitu mendekati skor maksimal.

Karena tujuannya untuk mengecek daya serap kurikulum, maka perbedaan skor antar siswa tidak penting dalam UN. Daya bahasa pengembangan tes, daya beda tidak penting dalam soal UN. Yang dipentingkan dalam penyusunan soal adalah validitas isi dan validitas konstruk untuk memastikan sama dengan kompetensi yang dituntut oleh kurikulum. Tingkat kesukaran soal tidak perlu dirisaukan, karena acuan yang digunakan adalah kompetensi sebagaimana dituntut kurikulum. Yang penting kontruk soal sudah sesuai dengan konstruk kompetensi yang dituntut oleh kurikulum.

Bagaimana menyimpulkan hasil UN sangat bagus, dalam pengertian sebagian besar siswa mendapat nilai tinggi (bahkan hampie semuanya) atau sebaliknya hasil UN sangat jelek dikarenakan ketidakmampuan mereka dalam mengerjakan , atau dalam pengertian sebagian besar siswa mendapat skor rendah, dalam hal ini kita tidak dapat menyalahkan soal UN. Sepanjang validitas isi dan validitas konstruk soal tersebut dapat dipertanggungjawabkan, maka sedikit atau banyaknya peserta yang dapat menjawab soal tersebut atau mendapatkan skor tinggi tidak menjadi masalah.

Pertanyaannya kini adanya klasifikasi jenjang berikut seperti SMP bukankah adalah untuk membedakan daya tingat siswa yang masuk kesana. Karena pastinya sekolah-sekolah tersebut mempunyai grade dan perbedaan dalam hal ajar, metode, prinsip dan target pembelajaran. Soal-soal yang ada dalam UN/US kemarin harus dibuat dengan tingkat kesukaran, jika soal terlalu mudah, hasilnya tidak dapat membedakan anak sangat pandai dengan yang sedikit dibawahnya, karena mereka sama-sama mendapat skor 100. Sebaliknya jika soal terlalu sulit, hasilnya tidak dapat membedakan yang sangat lemah dan sedikit di atasnya, karena sama-sama mendapat nilai yang sama. Tingkat kesukaran soal UN/US seharusnya ditengah-tengah, artinya peserta yang kemampuannya ditengah-tengah kelompok akan mendapatkan skor 50. Mereka yang lebih pandai akan memperoleh skor di atas 50 dan yang kurang pandai akan mendapatkan skor di bawah 50. Semakin jauh kemampuan peserta dengan temannya yang di tengah-tengah, seharusnya semakin banyak beda sakornya. Nah, oleh karena itu jika skor-skor nilai peserta UN/US digambarkan dalam bentuk grafik akan berupa kurva normal. Artinya ada anak pintar, menengah dan anak kurang pintar,  itu sudah absolute, alamiah dan sebuah keniscayaan.

Dari kajian diatas seharusnya kita paham. Masalahnya kini banyak kita temui dimana terjadi absurdtivitas nilai yang secara statistik “bermasalah”. Bermasalah dikarenakan pola nilai hasil UN tidak menyebar merata, bahkan terlihat pola yang membentuk garis lurus. lihat gambar dibawah ini.

kurva1

distribusi tidak normal

Dengan validitas soal sekelas UN malah membentuk pola ini, maka dapat disimpulkan secara statistik ada kesalahan. Sedangkan dalam kesimpulan ilmu sosial grafik statistik tersebut dapat dikatakan terjadi keabsurdan (silakan simpulkan sendiri). Karena bagaimanapun setiap anak mempunyai perbedaan dalam pengerjaan soal. Dan perlu ditegaskan bahwa tingkat kesulitan UN/US berada ditengah-tengah, hal ini ditujukan untuk mendapatkan klasifikasi siswa jenjang pasca SD selanjutnya.

Kalau tidak maka untuk apa diadakan rangking tiap SMP, bukankah adanya rangking SMP agar memudahkan tingkat kemampuan siswa, jika terjadi salah sasaran dari calon siswa SMP maka jelas terjadi kerugian sangat besar bagi SMP tersebut, ibarat membeli kucing dalam karung.
Sekali lagi ini hanya sebuah ulasan statistik, anda boleh percaya atau tidak. Jujur itu hebat !

salam Blogger

 

Posted on 30/06/2015, in Statistik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: