Kurikulum Nasional apa dan bagaimana?

jawa-pos_k-13-berubah-jadi-kurikulum-nasional1Bagi para guru juli 2016 sampai 2018 nanti mereka harus kembali bersiap dengan “modul” Kurikulum baru pengganti Kurikulum 2013 atau yang dulu dikenal dengan nama Kurtilas a.k.a K13. Fenomena ganti kurikulum yang kini berlanjut sejak zaman mendiknas M. Nuh ternyata belum berhenti di era Anies Bawesdan.

Revisi Kurtilas

Menurut info penulis yang di dapat bahwa Kurikulum nanti akan diberi nama Kurikulum Nasional. Nama kurikulum ini tidak lagi mengacu dengan tahun penerbitan seperti KTSP 2004 atau K13. Dalam Kurikulum Nasional ini, K-13 dikupas menjadi tiga bagian atau 3 jenis, yaitu Kurikulum Nasional, kurikulum berbasis pengembangan atau potensi daerah, dan kurikulum paling kecil mencakup kekhasan atau kondisi masing-masing sekolah. Di kurikulum Nasional nanti issu yang santer kurikulum mesti berbasiskan daerah masing-masing, dan kurikulum versi sekolah. Diversifikasi kurikulum ini sejalan dengan pasal 36 dan 37 UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Hal ini dipertegas Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud Tjipto Sumardi yang mengatakan bahwa sampai saat ini evaluasi masih berjalan dan namanya tetap Kurikulum 2013. Bahkan dosen saya di UNJ DR Unifah Rosyidi yang kini menjabat di direktorat jenderal ketenagaan pendidikan kementerian pendidikan secara tegas mengakui bahwa pada tahun 2018 mendatang kurikulum 2013 akan diganti menjadi kurikulum nasional, setelah seluruh sekolah sudah menerapkan kurikulum 2013.

Amburadulnya K13

Setidaknya revisi k13 menjadi kurikulum nasional ini akan menjadi jawaban dari amburadulnya implementasi K13. Amburadulnya kurikulum tersebut yang akhirnya di moratorium Mendikans ini bisa dilihat dari penjabaran pembahasan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD)  yang tumpang tindih dengan penilaian yang di jabarkan di empat aspek K1, K2 , K3 dan K4, point ini adalah kegaduhan” di dua kompetensi dalam implementasi K-13. Sebab banyak guru kerepotan ketika, misalnya, harus menyisipkan materi-materi keagamaan atau sosial di mata pelajaran matematika, sains, dan lainnya.

Lemahnya Assessment Kurikulum Nasional

Kita tahu bahwa dalam penilaian Kurikulum 2013 yang dikedepankan adalah menggunakan “Penilaian Autentik” (authentic assessment). Penilaian otentik  ini sebetulnya bukanlah hal yang baru.  Pada awalnya istilah tersebut diperkenalkan oleh Wiggins tahun 1990 sebagai bentuk ketidak puasan terhadap bentuk tes yang dinamakan “paper and pencil test”, yaitu bentuk penilaian yang sangat umum digunakan di sekolah dalam mengisi titik-titik, tes tertulis, pilihan ganda, kuis jawaban singkat, karena penilaian seperti itu tidak akan menunjukkan kemampuan sebenarnya dari siswa,  Jadi dikatakan otentik dalam arti penilaian kemampuan siswa yang sesungguhnya dan realistis berdasarkan unjuk kerja/demonstrasi langsung langsung tentang penerapan pengetahuan dan keterampilannya.

Kembali ke K13, sayangnya pelaksanaan penilaian autentik yang menjadi jargon K13 tidak serta merta dapat diserap sedemikian rupa oleh para guru dilapangan ya karena lemahnya pembuat K13 tersebut. Akhirnya terjadilah “multi tafsir” dalam menerapkan penilaian ini dilapangan, padahal sederhananya para guru (dalam pola KTSP terdahulu) harus mempunyai target nilai satuan KD yang bisa dimasukan dalam daftar nilai, baik dalam Ulangan harian, Tugas, UTS dan UAS, masalahnya tidak sederhana itu munculnya Tema yang “memblender” pelajaran menjadi satu ibarat sebuah karangan prosa yang paradok. Selanjutnya kebingungan membuat soal dengan rasa K1, K2, K3 dan K4 dan kemampuan memasukan nilai dari beberapa lesson plan inilah yang memunculkan “kegaduhan” kedua yaitu gagalnya menjadikan Autentic Assesment sebagai acuan catatan perjalanan siswa selama satu semester, hal ini banyak terjadi dikalangan jenjang Sekolah Dasar.

Masalah belum selesai, setelah terjadinya multi tafsir dari berbagai pakar guru dan instruktur K13 munculah kegaduhan ketiga yang di tutup dengan belum keluarnya raport resmi akhir K13 versi pemerintah. Sehingga di sosial media munculah berbagai aplikasi penilaian raport, yang pasti tidak seragam, beda pandangan dan bahkan sulit masuk akal bahkan tidak divalidasi oleh pemerintah.

Guru masuk dalam “kegilaan” penilaian raport akhir dimana seorang siswa di beri print out berpuluh-puluh lembar yang isinya guru menjelaskan kemampuan sang siswa dalam mencerna bab demi bab dan KD demi KD materi yang ada di K13, Orang tua bingung, Guru pusing , siswa linglung. ironis tapi nyata.

Harapan baru Assessmen Kurnas

Semoga di Kurikulum nasional nanti para penggagas Kurnas yang banyak dari rekan-rekan LPMP dapat menjelaskan kepada guru-guru Indonesia bagaiaman assessment Kurikulum Nasional sederhana tanpa harus membuat guru-guru indonesia resah dan gelisah. Munculnya sistem penilaian Kurikulum Nasional ini nantinya akan diterjemahkan dalam aplikasi IT yang terintegrasi sehingga akhirnya terdapat raport Kurikulum Nasional yang elegan, dan sesuai dengan semangat Kurikulum nasional yang terbarukan. semoga

Salam guru Indonesia

bangfajar

Posted on 15/12/2015, in Education, Kurikulum 2013, Kurikulum Nasional, Kurnas. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: