Revisi Assessment Kurikulum 2013 ke Kurikulum Nasional Melegakan

bangfBaru saja kemarin kami para guru di Gugus V Kota Bekasi mengadakan pelatihan tentang Assessment Kurikulum Nasional atau pengganti K13 langsung dari sumber perancang Kurnas yaitu Dr. Rina Mutaqinah di LPMP Jawa Barat, Bandung Barat, 21 Desember 2015

Perkenalan saya dengan Ibu Rina memang tidak mudah saya harus men-searching banyak nama melalu teman di PEP UNJ (saya ucapkan terima kasih untuk Dr Ahmad Tasrif), dan akhirnya dapatlah satu nama dimana beliau dikenal sebagai tokoh K13 yang paling kritis dan dianggap paling memahami K13 khususnya masalah Assessment K13 yang menghebohkan (baca artikel saya sebelumnya) .

111111211

Pelatihan yang digagas organisasi guru kami di KKG gugus V kota Bekasi ini juga akhirnya melegakan para guru serta para pembuat aplikasi assessment kurikulum karena akhirnya penilaian Kurnas atau revisi K13 sudah “terang benderang”, bahkan kami menjadi satu-satunya KKG di Indonesia (gaya loh !) yang bisa mendapat draft terbaru raport K13, karena baru di tanda tangan oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah 2 hari sebelumnya.  Lalu apa saja yang bisa diambil atau benang merah revisi Assessment Kurnas ini. Di artikel ini saya akan membuat intisari dari kegiatan atau seminar kemarin, (koreksi saya kalau ada kesalahan) mari kita simak satu persatu.

K13 dan Kurikulum Nasional

tidak dipungkiri bahwa Kurnas ini akan menjadi pelengkap dari Kurikulum 13, ini artinya kurikulum K13 tidak akan di tutup, melainkan dilanjutkan khususnya di level SD. Bedanya pada KTSP dan K13 di Kurnas ini akan lebih di tonjolkan penilaian 4 aspek wajib yaitu K1, K2 , K3 dan K4. Walaupun sebetulnya di KTSP sendiri penilaian K1 dan K2 sudah ada tapi tidak terlalu menonjol, dibandingkan di Kurnas ini aspek K1 dan K2 wajib dilaksanakan. Kemudian munculnya buku pelajaran pertema dimana satu semester siswa di ajarkan 5 tema (1 tema 1 buku) sehingga dalam setahun ada rata-rata 10 sampai 11 tema pelajaran yang diajarkan.

Perbandingan Raport K13 dan Kurnas

Saya akan bandingkan 3 raport K13 dan Kurnas silakan di lihat dibawah ini. Perbedaan hanya terletak pada penilaian K3 dan K4.

1

Raport Kurnas penilaian k3 dan K4. Di setujui Desember 2015 kemarin

 

Raport K13

Raport K13 dibuat tahun 2013

3

Raport K13 yang direvisi tahun 2014

Terlihat dari ketiga raport tersebut Raport Kurnas lebih mirip dengan raport K13 yang dibuat pada tahun 2013 ketimbang raport revisi K13 yang disetujui tahun 2014. Pada Raport Kurnas tegas menyatakan bahwa penilaian tetap menggunakan nilai Per-PELAJARAN walaupun metode pembelajaran yang digunakan menggunakan metode tematik. Nantinya pada buku nilai guru assessment perpelajaran tema tersebut akan di mix (dipadu) menjadi satu kesatuan perpelajaran utuh yang bermuara para raport K3 perpelajaran. Sekaligus dimunculkan nilai, predikat dan deskripsi.

Ini sangat jelas dan sekaligus sebagai penutup pro kontra Assessment K13 atau Kurnas. Raport ini akan menjadi acuan penilaian (akan saya bahas di tulisan berikutnya) yang terhubung dengan sistem buku daftar nilai yang akan dipegang oleh para guru (internal) nantinya. Sehingga keseragaman Assessment Kurnas ini mutlak dilakukan. Sedangkan untuk masalah bentuk format dan uraian daftar nilai Assessment Kurnas bisa menyesuaikan asal selama penilaian akhir raport tidak saling bertentangan.

Rumus Akhir Raport Kurnas ~> (2*UH+UTS+UAS)/4

Selain itu di dalam daftar nilai Kurnas juga terjadi perubahan rumusan dimana dalam KTSP kita terbiasa menggunakan rumus (UL+Tugas+UTS+2*UAS)/5 maka dalam dalam kurnas ini kita menggunakan rumus berbeda yaitu (2*UH+UTS+UAS)/4 . Hal ini bisa dilihat dalam contoh pelaksanakan Assessment perpelajaran dibawah ini…

2Saya menganggap penilaian ini lebih baik, karena penilaian ulangan harian menjadi lebih dominan, secara filosofis juga ini juga bagus karena siswa dan guru harus selalu “berjuang” agar nilai ulangan harian lebih bagus disetiap bulan atau pada saat evaluasi pergantian tema, sehingga drillisasi UAS atau UTS bisa tergerus pelan-pelan. Inilah semangat Kurikulum Nasional.

Modus Pada Assessment K1 dan K2

Dulu kita pernah mendengar oleh para trainer K13 bahwa dalam sehari kita harus mendapatkan nilai K1,K2, K3 dan K4 sekaligus. Pada pelatihan dengan Dr. Rina Mutaqinah kemarin hal ini dibantah. Menurut beliau untuk penilaian K1 dan K2  guru hanya diambil secara “modus” atau “sesuatu” yang paling sering muncul pada diri anak, biasanya bisa diambil dari satu kegiatan tema. Paling sering muncul ini ditafsirkan oleh beliau adalah sesuatu sikap yang paling baik atau paling tidak baik, tetapi pada awal assessment dikolom nilai semua siswa wajib dikategorikan “baik” oleh guru. Penilaian “Modus” siswa ini juga sebagai akhir perdebatan penilaian K1 dan K2. Dengan begitu guru dapat fokus disemua kompetensi penilaian.

Format Soal Kurnas

Lalu bagaimana bentuk format soal Ulangan Harian, UTS dan UAS pada Kurikulum nasional?. Seperti kita ketahui bahwa ulangan ini adalah bentuk tes tertulis yang artinya lebih masuk ke kategori K3. Sangat diakui penilain K3 ini tetap punya peran besar dalam Kurnas, dengan begitu proporsi penilaian tertulis menjadi kunci penilaian akhir siswa dan digabung dengan penilaian K-lainnya. Dalam Juklak Assessment Kurnas yang ditandatangi Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Ph.D bentuk soal masih terlihat bergabung dengan beberapa pelajaran tertentu dan tidak terlihat batasan soal khusus. lihat dibawah ini…

soal1Saya sebetulnya tidak terlalu setuju dengan bentuk seperti ini karena guru nantinya harus memilah nilai sesuai dengan daftar nilai pelajaran pertema. Saya malah lebih setuju tetap menggunakan soal perpelajaran tetapi konteks soal tidak lari dari KD, keuntungannya adalah kemudahan guru memasukan ke daftar nilai dan guru bisa melakukan perluasan atau pemantapan tema, karena kita ketahui menurut saya text book yang ada dalam K13 begitu “miskin materi” dan terlalu banyak dialog yang tidak penting, dengan membuat soal tema perpelajaran serta merta memudahkan guru memasukan dalam kolom nilai raport akhir. Dengan format soal K13 guru kelas harus bisa secara jenius memasukan pengembangan materi agar tidak lari dari konteks KD. Karena kalau melihat soal diatas apakah dengan 3 soal matematika dalam satu lembar soal gabungan Ulangan Harian berjumlah 15 soal bisa dianggap mampu menjawab kemampuan skill siswa?.  Berikut contoh dengan pendekatan pelajaran dibawah ini…

6Untuk lebih lengkapnya silahkan download “PANDUAN PENILAIAN UNTUK SEKOLAH DASAR” di akun 4shared saya …klik disini

Kesimpulan Akhir

Diawal saya memang agak “meragukan” Kurikulum Nasional Ini akan sesukses Kurikulum sebelumnya (baca : KTSP) , Bagaimanapun perubahan kurikulum mutlak harus dilaksanakan sesuai dengan perubahan kondisi jaman yang berbeda dan perkembangan ilmu pendidikan yang lebih humanity. Perbaikan di sisi Assessment di Kurikulum ini saya lihat juga sudah menunjukan keteraturan walau guru nantinya dilapangan harus mampu mendata KD pelajaran secara rinci. Setidaknya format Assessment Kurnas yang berujung pada raport ini jauh lebih penting karena disinilah penilaian akan berlangsung baik buku daftar nilai pegangan guru serta format assessment untuk K1,K2, K3 dan K4.

Bagaimanapun sebagai guru kita harus tetap kritis dengan berbagai penilaian termasuk kurikulum nasional yang akan jadi pegangan mendidik anak bangsa. semoga

salam blogger

bang fajar

silakan baca lebih lengkap di blog saya https://bangfajars.wordpress.com

Posted on 06/01/2016, in Kurikulum Nasional and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. kak,boleh dijelaskan persamaannya sama yg sudah direvisi dan sama yg sebelum direvisi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: