Ternyata Bukan Hanya Cukup “Berbakat” Saja

23tak-cukup-hanya-menjadi-orangtua-baikDisebuah meja kafe berkumpulah beberapa ibu yang sedang menggelar  acara reunian kecil, karena lama bagi mereka bertemu kembali. Seorang Ibu yang menggunakan baju putih berusia sekitar 60 tahunan berbicara tentang bangganya mempunyai anak yang kini menjadi seorang pilot di sebuah maskapai penerbangan internasional. Tidak mau kalah, seorang ibu dengan gaun merah serta keriput yang tidak bisa ditutupi dengan make up berseloroh, bahwa anaknya pun kini juga menjadi kapten di sebuah angkatan bersenjata nasional. Sontak ramailah pembicaraan di reuni tersebut mengarah tentang keberhasilan anak mereka, bahkan beberapa banyak yang kini tinggal diluar negri. Tidak hanya pilot dan kapten ada juga yang berprofesi menjadi bangkir , CEO , pejabat dan lain-lainnya.

Ketika semua sudah saling mengobrol ternyata ada seorang Ibu yang sejak tadi lebih memilih diam, wanita bergaun merah disampingnya pun bertanya perihal anaknya. Dengan lembut ibu tersebut mengatakan bahwa anaknya hanya seorang pegawai biasa disebuah perusahaan. Belum puas wanita bergaun merah kembali melontarkan pertanyaan dimana anaknya kini tinggal. Lalu ia mengatakan bahwa anaknya tinggal agak jauh, tetapi setiap  3 hari sekali anaknya selalu berkunjung kerumahnya.  Bahkan, kadang cucunya menginap dirumah sambil mereka menghabiskan jalan-jalan keluar bersama.

(Waktu terus berjalan ) Tidak lama, munculah seorang anak kecil dari depan pintu cafe kemudian menghampiri wanita yang sejak tadi mengobrol dengan wanita berbaju merah. Anak kecil tersebut berkata “Nenek, jadikan kita jalan-jalan?”. Kemudian Ibu tadi meminta izin kepada kawan-kawan sebayanya untuk pulang lebih dahulu karena sudah dijemput oleh anak dan cucunya. Kemudian ruangan pun menjadi hening, para ibu-ibu tersebut saling berpandangan mata. Muncul rasa iri dan cemburu melebur menjadi satu, karena sehebat dan berbakatnya anak mereka ada satu hal yang mereka tidak dapat yaitu kebersamaan di masa tua.

Para anak-anak mereka lebih memilih jauh dari orang tua yang membesarkan, kadang mereka lebih sibuk membangun keluarga mereka sendiri sehingga lupa bahwa ada orangtua yang selalu merindukannya.

Sekolah Berbakat

Di Tiongkok (baca : China) seperti dilangsir oleh BBC seorang siswa bernama Zhang Hao, (18), menghabiskan waktu 12 jam sehari untuk belajar. Minimum sembilan jam ia habiskan di kelas untuk mengikuti latihan ujian, dan sesudah pulang ia kemudian terus belajar, Zhang Hao sendiri kadang-kadang belajar selama 17 jam sehari. Kesibukan Zhang ini dapat dimengerti sebab ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional atau dikenal dengan nama Gaokao. Hal ini bahkan sudah direstui oleh banyak orang tua di China, sebagai sebuah pemakluman.

Setiap tahun, lebih dari sembilan juta pelajar sekolah menengah atas di Cina menghadapi ujian menakutkan. ujian ini menentukan universitas mana yang bisa mereka masuki,  dan pada akhirnya pekerjaan serta status sosial di masa depan menjadi sebuah jaminan.  Biasanya peserta didik di China menghabiskan rata-rata 8,6 jam belajar di sekolah saban hari. Tekanan rata-rata orang tua di China agar anak mereka berprestasi membuat setiap siswa dibebani pelajaran tambahan di luar sekolah. Munculnya tekanan-tekanan ini sesuatu yang disengaja, karena mereka diharapkan menjadi siswa berbakat di China.

Bahkan kini mulai bermunculan kelas bagi siswa-siswa berbakat (baca: kalau di Indonesia akselerasi) di China. (Seperti dilansir oleh shanghaiist.com) Sebuah SMA bernama Mao Tan Chang, dimana Sekolah tersebut dikhususkan bagi anak-anak yang memiliki keinginan besar untuk masuk ke universitas ternama. Agar lolos ujian masuk universitas, mereka digembleng habis-habisan oleh para pengajar. Sejak berdiri, sudah ada total 20.000 siswa /siswi, mereka melalui masa belajar siang dan malam. Semuanya dilakukan demi memiliki masa depan yang lebih baik. Di SMA Mao Tan Chang para pengajar memang menempa siswa sangat keras. Semua siswa asrama  di sana diharuskan belajar 48 jam penuh tanpa istirahat, kecuali hanya ke toilet atau makan.

Fenomena Anak Indonesia

Di Indonesia juga makin banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang “superkid” . Setelah selesai sekolah yang melelahkan mereka harus dijejali berbagai kegiatan ektrakurikuler yang kadang sedikit diluar nalar. Dari mulai les piano, les balet, les bahasa Inggris, les bela diri bahkan les super model. Kurikulum di sekolah level TK saja bahkan kini sudah banyak yang diwajibkan belajar calistung. Ironi dimana seharusnya mereka masih menikmati dunia bermain, tetapi dimasa muda belia mereka justru sudah diberikan beban yang terlalu besar.

Selain itu banyak juga para orangtua yang lebih suka anakanya jago berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia . Lihatlah cerita Ananda Sukarlan ( seorang  maestro musisi asal Indonesia) yang bingung dengan seorang anak didiknya yang tidak bisa berbahasa Indonesia padahal ia tinggal di Indonesia. Tren kekinian anak Indonesia yang tidak menguasai bahasa “Ibu” (bahasa Indonesia ) dan justru bangga dengan bahasa asing.

Generasi yang Gagal Paham

Kadang orangtua begitu bernafsu untuk mendidik anaknya menjadi “seseorang” di masa depan, sehingga kultur budaya dan agama kadang di nomor duakan. Sehingga kini banyak anak-anak yang lahir dari budaya “pekerja” justru menjadi oarang yang kaku dimasa depannya. Mereka justru malah menjadi robot perusahaan dan kadang lupa akan norma-norma sosial. Tahun lalu (2014), Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden memicu kontroversi tatkala mengeluarkan pernyataan bahwa meskipun jumlah lulusan di Cina sangat tinggi, negara itu perlu memusatkan perhatian pada “inovasi”, mereka justru terlalu “saklek” dan minim akan “attitude”. Pandangan Biden ini mencerminkan sebagian tantangan yang dialami perusahaan-perusahaan internasional ketika merekrut talenta orang-orang Cina. Biden menyalahkan kekakuan sistem pendidikan di sana yang mengedepankan belajar dan belajar, nilai dan nilai.  Akhirnya evolusi pengajaran dan pola didik yang diterapkan bagi para orang tua ini justru berubah menjadi keadaan yang “menakutkan”. Dimana sesuatu diukur dari kemampuan secara simetris dan gaya hidup semata. Di harian kompas saya pernah membaca sebuah artikel bahwa orang tua siswa yang begitu getol menyekolahkan anaknya bermain musik tanpa didasari kecintaan anak tersebut pada musik justru mereka menciptakan hasil karya musik yang instan dan bukan berasal dari nurani. Sang anak yang diciptakan dari sistem drilisasi hanya menelurkan sebuah karya yang bersifat “yang penting ada”, sangat berbeda jika hal itu lahir dari keinginan anak yang wajar tanpa paksaan dan dibawah ancaman.

Minimnya Pendidikan Keagamaan

Ketika semua anak begitu dipersiapkan dengan berbagai tekanan dan dorongan yang “membabi buta” dan tanpa sebuah sentuhan kasih sayang maka jangan salahkan jika anak akan kehilangan naluriah. Dia akan lebih memfokuskan pada sebuah “kesuksesan semu”. Lambat laun orang tua yang mendidik (baca sub kontrak) dengan berbagai program paket anak berbakat akan sadar bahwa semua itu tidak cukup. Apalagi ketika hilangnya pendidikan norma-norma keagamaan yang minim ia dapat.

Anak yang dididik dengan sentuhan agama dan tidak selalu di “jejali” dengan berbagai paket pembelajaran setidaknya masih memilihi sedikit hati nurani yang baik dimasa depan, (walaupun hal ini masih bisa menuai banyak perdebatan).  Seperti apa yang dikutip Einstein “Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed” . Setidaknya “bibit-bibit” inilah nanti yang akan menjadi pelipur lara para orangtua dimasa tua. Diharapkan mereka menjadi lebih bijaksana menyikapi bagaimana seharusnya “berterima kasih” kepada orangtua.

Artikel ini dibuat bukan untuk memberikan penolakan pada kelas-kelas berbakat dan pelajaran-pelajaran non samawi. Tetapi setidaknya dengan pemahaman agama yang baik dan dipadukan dengan keilmuan lainnya maka setidaknya ada keharmonisan dan dinamisasi seorang anak kedepan, itulah seni dalam mendidik anak.

Karena untuk apa mempunyai seorang anak yang mempunyai gelar tinggi jika ia hanya menjadi perhiasan kebanggan saja dalam keluarga. Untuk apa mempunyai anak yang kaya raya kalau tidak bisa membahagiakan orang tua. lalu untuk apa mempunyai jabatan yang tinggi kalau akhirnya mereka melupakan darimana mereka berada. Karena dibalik kejayaan seorang anak selalu ada bayang-bayang kesuksesan orang tua yang kulitnya makin menua dan ingatan yang makin tidak paripurna. Maka orang tua akan selalu merasa bangga jika diakhir masa mereka selalu ditemani oleh anak-anak mereka tercinta. Uang, jabatan dan lain sebagainya tidak akan bisa membeli kebahagian. Karena kita juga butuh doa mereka di alam kubur nanti.

salam blogger

 

bangfajar

Seorang pengajar disekolah kecil dipinggiran kota Bekasi

baca artikel lainnya di https://bangfajars.wordpress.com

 

 

Posted on 22/02/2016, in renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: