Kecurangan Ujian Nasional Sekolah, Masalah yang tak Kunjung Usai?

TEMUAN KUNCI JAWABAN UN

TEMUAN KUNCI JAWABAN UN

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan mengadakan kegiatan tahunan bernama Ujian Akhir Sekolah (UN a.k.a US). Kegiatan untuk menguji sejauh mana kemampuan anak didik menyerap soal-soal yang sebenarnya sudah pernah diajarkan oleh gurunya sendiri. Masalahnya, kadang ritual tahunan ini selalu membawa permasalahan yang sama yaitu banyak diantara mereka (pendidik) yang tidak mau bermain secara “jantan” atau jujur.

Menurut Anies Baswedan seperti dilangsir Republika (18/5) di tingkat SMP pada tahun 2015 kecurangan ujian nasional (UN) terjadi di 80 persen SMP negeri se-Indonesia. Kasus yang sama pun terjadi di 89 persen madrasah tsanawiyah negeri. Berdasarkan matriks Indeks Integritas UN (IIUN) sekolah-sekolah swasta dinilai lebih jujur. Sebab IIUN sekolah swasta jauh lebih tinggi dari pada sekolah negeri.  Sedangkan pada tingkat SMA karena Ujian Nasional kini berbasiskan komputer maka tingkat kecurangannya pun 0%. Tetapi pada sekolah yang masih menggunakan sistem kertas maka tingkat kecurangannya masih diatas 80% , sebuah fakta yang mengejutkan.

Kecurangan di jenjang SD paling parah?

Lalu bagaimana dengan tingkat SD?  dimana paket soal masih menggunakan sistem satu paket dan tidak berbasiskan komputer, ditambah lagi rata-rata guru SD masih sangat mudah di pengaruhi oleh kebijakan yang bernama gengsi atau status sekolah, maka sudah dipastikan kecurangan ada dimana-mana.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) seperti dilangsir Tempo.co (7/5) menilai Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar paling rentan terhadap praktek kecurangan karena hampir tidak ada pengusutan atau pembuktian kecurangan. FSGI tegas mengatakan kecurangan UN tingkat SD pasti ada, dan di daerah justru paling banyak.

Kenapa hal ini terjadi. Ini dikarenakan di level guru dan kepala Sekolah SD masih saja ada idiom bahwa “biar sekolah kita jelek tapi nilai US harus paling tinggi di tingkat kota“, walaupun pengajaran sehari-hari tidak memenuhi kriteria pengajaran, tapi kalau sudah urusan kelulusan maka itu lain soal.

Kita semua pengajar di jenjang SD tahu bahwa praktek kecurangan UN/ US tingkat SD diketahui sangat “kasar” dan kasat mata. Kasar dalam artian mereka para oknum secara vulgar tanpa malu-malu membocoran jawaban kepada siswa,  kedua dengan cara yang paling High tech yaitu menyuap “orang atas” dengan bayaran tertentu untuk mengubah nilai siswa, hal ini dilakukan  ketika sulit berkongkalikong dengan pengawas, dan cara ini dianggap cara paling “Smooth”. Hal ini marak terjadi di SD daerah dan di kota namun bukti dan kesaksian sangat sulit didapatkan. Seperti kata FSGI sulit mencari saksi yang berani karena para guru ini dibawah ancaman serta mutasi. Selain karena beberapa tipikal banyak guru SD mudah untuk disuruh berbuat curang hal ini dilakukan dengan penuh “keikhlasan”.

US Masih menjadi Tiket Masuk SMP

Sebetulnya parameter kecurangan UN semua jenjang mengalami penurunan, hal ini dikarenakan UN tidak lagi menjadi standar wajib kelulusan siswa, itu benar, tetapi faktanya tidak bagi jenjang SD. Mengapa ? karena di level SD nilai US ini tetap menjadi patokan utama untuk masuk ke jenjang SMP, dimana nilai-nilai tersebut akan di rangking PSB berdasarkan kuota penerimaan SMP. Dan viola! siswa SD yang mendapatkan US tertinggi berhak masuk ke SMP unggulan, sisanya akan mengisi kuota atau ujung-ujungnya masuk sekolah swasta, tanpa tahu bagaimana proses ia mendapatkan nilai itu sebenarnya. Karena bisa saja nilai US jelek tapi karena faktor jujur. Maka membeli kucing dalam karung terjadi setiap tahunnya.

Dan karena nilai-nilai itu mempunyai harga maka ada tarif nilai tertentu yang harus dibayarkan oleh orang tua, disinilah fakta bahwa nilai US jenjang SD mampu menggerakan “ekonomi” para oknum guru.

Tapi sejarah terbongkarnya kecurangan US di level SD pernah terjadi. Pada tahun 2011 di Surabaya. Kepala sekolah, wali kelas, dan oknum guru beinisial “F” di SDN Gadel 2, Tandes, Surabaya, mendapatkan sanksi administratif akibat kasus praktik contek massal saat ujian nasional (UN). Kasus itu terungkap setelah orang tua siswa SD Gadel yang pintar, melapor ke Diknas Surabaya terkait anaknya, berinisial AL, ia dipaksa gurunya untuk memasok bahan contekan untuk siswa lainnya pada tiga kelas di SDN 2 Gadel. Bahkan, beberapa bulan sebelum pelaksanaan UN, AL sudah didoktrin gurunya agar patuh untuk memberi contekan dengan alasan membantu teman dan membalas budi guru. Hal itu dilakukan karena dari hasil “try out” diketahui ada 25 persen dari 60 siswa kelas 6 di sekolah itu yang kemungkinan tidak lulus.

Tryout dan monitoring siswa

Sebetulnya pemetaan sebuah keberhasilan siswa kelas 6 dalam pengerjaan US bisa terlihat dari hasil tryout yang dilaksanakan guru disekolah tersebut baik dengan mengadakan tryout internal, tryout Gugus atau tryout tingkat Kota. Dihasil tersebut kepala sekolah dan guru kelas 6 bisa melihat perkembangan hasil siswanya sendiri, dari situ juga mereka bisa memprediksi masa depan hasil US siswa. Bahkan di level gugus kami di daerah Jatimekar pada tryout US menggunakan sistem 4 paket soal berbeda. Hal ini diharapkan untuk mengurangi tingkat kecurangan siswa dan guru dan mendapatkan hasil TryOut US yang sebenarnya. Peta inilah nantinya menjadi referensi mengetahui hasil US sebenarnya. karena menurut statistik tingkat kesamaan siswa tidak akan melebihi 10% dari hasil sebelumnya. Kecuali memang ada “sesuatu” didalamnya.

Kejujuran VS Gengsi dan kebutuhan “perut”

Saya yakin semua guru diajarkan untuk mendidik siswa/siswinya menjadi manusia-manusia yang beradab. Saya juga yakin bahwa tanggungjawab mendidik manusia untuk melahirkan generasi yang beriman dan beramal soleh serta sanggup melaksanakan tugas terhadap diri, keluarga, masyarakat dan negara ada dipundak setiap guru. Jika dengan kesadaran beban ini semua guru tahu maka sebetulnya tingkat kecurangan seperti yang ditemukan pemerintah akan menjadi 0%.

Tetapi sekali lagi beban ekonomi guru dan gengsi sekolah kadang menjadi pemicu faktor diatas. Hasil yang sempurna tetapi dengan cara “curang” dan “shortcut”  (jalan pintas) menjadi pilihan dimana gagalnya proses belajar dan ketidakmampuan memenuhi target kurikulum. Selanjutnya selama masih terbukanya celah sistem jalur rangking atas nilai US menuju jenjang SMP maka jangan harapkan masalah ini akan usai. Dipelatihan Kurikulum Nasional Desember 2015 lalu seorang penggagas K13 yaitu Dr. Rina Mutaqinah (LPMP) mengatakan bahwa di daerah Bandung sudah tidak lagi memberlakukan seleksi masuk SMP berdasarkan nilai US. Bagi saya hal ini sangat efektif untuk memutus rantai mafia pendidikan bagi jenjang SD yang makin menggurita, semoga saja kebijakan ini bisa menular di kota besar dan daerah lainnya di Indonesia. Karena gengsi dan kebutuhan “perut” sangat mudah terbeli apalagi harga diri. Bagaimana dengan anda ?

salam blogger

bangfajar

Penulis adalah seorang pendidik yang doyan sekali seblak buatan istrinya sendiri, kini mengajar di sekolah kecil pinggiran Kota Bekasi #hidupseblak

Baca artikel lainnya di https://bangfajars.wordpress.com

Posted on 08/03/2016, in Education. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Adrian Jatmiko

    Lebih miris kalau bocoran UN itu di koordinir oleh sekolah/guru sendiri. Mungkin menutupi kekurang si guru/sekolah dalam hal mapel UN. Terlebih2 dengan kutipan2 dalam mengupayakan kunci UN yang sangat memberatkan siswa. Udah seram, mengancam dan bayar….kalau hal seperti ini menjadi pertanyaan besar…MUNGKINKAH KEPALA SEKOLAH TIDAK TAU HAL INI? Pembodohan yang terkoordinir ….Huh…
    #TolakUN

  2. Betul ulasan anda, Bung! Masih banyak Kecurangan us 2016 tngkt sd/mi..baik berupa kerjasama, atau kongkalikong dengn pengawas ujian. Untuk membuktikn praktek kecurangn sebnrnya gampang, melihat hasil try out, hasil us, dan perkembngn anak saat d SMP, jika ada perbedaan mencolok, ini pasti buah dari kecurngn..Namun kecurngn tingkt sd sepertiny tidak ada jln keluar yg nyata ..

  3. Betul Bung ulasan Anda, masing nyata praktek kecurangn us tingkt sd/mi d tahun 2016 ini. Dari yg aman contek2kan, ini dibuktikan dr hasil tryout dan hasil us nya. Hasil us ny sekolh yg seperti itu, nilainya seragam, dan akhirnya sekolh tersebut menduduki peringkt pertama rata2 hasil us. Kepala Sekolah bangga, guru2 bangga. Namun semua itu adalah kebohongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: