Belajar Dari “Guru” Bernama Claudio Ranieri

raMenyamakan profesi guru dengan profesi pelatih sebuah cabang olahraga adalah sah-sah saja, karena masalah menentukan bakat dan keahlian seorang siswa bukan hanya dimiliki seorang guru disekolah, tetapi juga dimiliki seorang pelatih, pelatih atau guru yang “cerdas” harusnya mampu mengubah seorang yang biasa menjadi luar biasa.

Inilah yang terjadi pada seorang pelatih sepak bola bernama Claudio Ranieri (63 thn), di Inggris terjadi eforia yang besar kepada sebuah tim kecil bernama Leicester City.

Seorang Ranieri mengingatkan kita pada sosok Brian Clough asal Inggris yang mampu membawa tim antah berantah bernama Nottingham Forest, dimana saat itu Forest ketika berada di peringkat 13 divisi 2 liga Inggris.

Berkat kecerdasan dan motivasi kepada pemain (dimana didominasi pemain murah) akhirnya Forest berhasil naik ke liga utama dan memberi satu gelar juara liga Inggris (1977-1978) dan dua gelar piala Champions Eropa berturut turut.

Kembali ke Ranieri, banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari seorang Ranieri, ia sudah banyak malang melintang melatih tim Eropa seperti Cagliari (1987), Napoli (1988), Fiorentina (1993), Valencia (1997 dan 2004), Atlético Madrid (1999), Chelsea F.C. (2000-2004), Juventus (2007-2009), Roma (2009–2011) dan terakhir Internazionale (2011–2012).

Walau banyak memegang tim besar tetapi prestasi Ranieri hanya trofi juara Coppa Italia bersama Fiorentina dan Copa del Rey bersama Valencia. Itulah mengapa dia dijuluki pelatih “spesialis gagal”.

Kini Ranieri tidak lagi memegang tim besar, tetapi ia sedang menangani tim kecil papan bawah bernama Leicester City. Pada bursa transfer musim lalu ia menggantikan posisi Nigel Pearson yang dipecat awal musim 2015/2016 setelah hanya berada di posisi 14 liga utama.

Andai anda tahu Leicester City adalah sebuah tim yang selalu menjadi kandidat degradasi ke divisi satu, maklumlah mereka bukan tim bermaterikan pemain kelas dunia seperti Chelsea, Manchester City atau MU, dimana tim-tim tersebut dimiliki para billionere dengan nilai transfer unlimited,

Kita semua tahu bahwa kini Leicester berada di puncak klasemen dan tinggal menunggu 9 point untuk menjadi juara liga Inggris 2015/2016. Sebuah pencapaian  luar biasa bagi klub dan sejarah sepak bola Inggris. Padahal dulunya ditahun 2007 Leicester berada di divisi 3 (kasta terbawah) dengan 12 kali menang dan 46 kali kalah.

Kecerdasan dibawah kekurangan dan tekanan

Seperti seorang guru kelas yang harus mampu mendeteksi 8 kecerdasan anak ala Quantum Teaching Bobby de porter, Ranieri akhirnya mampu meracik tim yang banyak di tulis media sebagai tim”hidup segan mati tak mau”  dengan suntikan motivasi kepada para pemainnya.

Di Musim ini Raneiri hanya membeli 4 pemain level bawah yaitu Yohan Benalouane (atalanta), N’Golo Kanté (caen), Shinji Okazaki (mainz), Christian Fuchs (schalke). Sisanya ? kebanyaan pemain yang masih muda dan pemain bintang yang mulai kadaluarsa seperti Huth (mantan bek chelsea) dan inler (udinese).

“Kekurangan” lainnya dari tim ini adalah seperti yang dirilis CIES Football Observatory, Leicester merupakan tim dengan skuat termurah keempat musim ini dengan harga senilai 72 juta euro (untuk total 22 orang), sangat jauh dengan nilai satu pemain baru Man City Kevin de Bruyne yang dibeli dengan harga 77 juta euro.

Sedangkan untuk gaji, Ranieri hanya dibayar £ 1,5 juta, berbeda dengan Mourinho yang dibayar sebesar £ 20 juta di MU dan £ 21 juta bagi Pep Guardiola di City.

Metode belajar dan latihan

Mengapa mereka bisa berhasil? ternyata suntikan semangat berhasil di terapkan Ranieri kepada beberapa pemain yang dulunya dinilai hanya sebagai penggembira di liga Inggris. Contoh seperti James Vardy yang dulu “nyambi” menjadi buruh pabrik alat-alat penyangga patah tulang untuk menyambung hidup, kini ia adalah pencetak gol terbanyak di liga Inggris.

Atau Mahrez yang disulap menjadi seorang bintang assist mengalahkan statistik Mezut Ozil (Arsenal) dan masih banyak lainnya.  Kini para punggawa Leicester satu persatu menjadi “buron” tim-tim papan atas seperti Madrid, Barcelona, Milan dan lain-lain.

Apa rahasianya tim ini menjadi sebuah tim luar biasa? kalau anda penasaran tengoklah bagaimana cara Ranieri melakukan pendekatan kepada para pemain-pemainnya.

Menurut wawancara sebuah surat kabar lokal Inggris, Ranieri mengawali musim dengan melakukan penelitian karakter secara detil kepada setiap pemain satu persatu baik kelemahan dan kekurangan, ia juga jarang membicarakan masalah taktik dengan para pemain. Kepada tim ia membangun latihan dengan suasana yang menyenangkan, rileks dan tidak terburu-buru.

Pada sesi latihan fisik ia juga tidak memaksa (terlalu memforsir) teknik tertentu kepada para pemain ala latihan tentara. Selain itu Raneiri juga mengurangi “tekanan” berlebihan kepada pemain (seperti emosional ketika tim kalah atau tertinggal).

Agak sangat berbeda dengan metode latihan Alex Ferguson ketika masih menukangi MU, dimana cara sukses besar di United adalah berlaku “kejam” dan bermental pemenang. Seorang Beckham sempat dilempar sepatu oleh sang pelatih saat bermain jelek.

Ia juga banyak belajar dari orang lain dan tidak malu bertanya dari pelatih yang lebih muda, dalam hal metode membangun tim, padahal ia sudah menjadi pelatih selama 30 tahun. Sebuah kerendah hatian bagi seorang Ranieri.  Jurgen Klop adalah salah satu guru bagi Ranieri dalam model kepelatihan.

Tak hanya itu, Ranieri juga memperlakukan metode yang lumayan menarik di antara tim Premier League. Dalam enam hari selama seminggu, minus ketika mereka melakoni pertandingan, Ranieri mempersilahkan para pemainnya memiliki waktu santai selama dua hari.

Ia menggunakan hari Selasa untuk berlatih keras dan Rabu para pemain bisa beristirahat. Pada hari Kamis mereka kembali berlatih keras dan Jumat fokus mempersiapkan diri untuk pertandingan di hari Sabtu. Ia memastikan bahwa para pemain memiliki setidaknya waktu dua hari rehat dari latihan sepakbola tiap pekannya. Itu semua sudah disepakati sejak Raneiri bergabung. sehingga hampir tidak ada ciera yang dialami para pemain.

Simaklah apa pengakuan Vardy tentang bagaimana Ranieri melatihnya, ternyata penyerang tajam, haus gol dan santun itu mengaku tak berlatih banyak dalam melakukan shooting (tembakan) ke gawang lawan dalam sesi latihan. Alasannya pelatih hanya ingin mengistirahatkan kakinya untuk pertandingan berikut. Hasilnya 21 gol dari 33 pertandingan telah Vardy torehkan.

Metode itulah yang akhirnya melahirkan karakter baru dalam diri para pemain Leicester, Raneiri ibarat seorang illusinonist yang mampu memunculkan bakat-bakat terpendam dari alam bawah sadar mereka. Walau berlabel pemain murah kini gaya permainan mereka berubah bak pemain handal bernilai jutaan euro. Sebentar lagi mereka akan mewujudkan impian mereka menjadi legenda baru di liga Inggris.

Belajar dari seorang Ranieri

Tanpa sadar ternyata seorang Ranieri ini adalah sesosok guru yang seharusnya banyak ditiru oleh para guru-guru di Indonesia. Menjadi guru yang menyenangkan dan dirindukan adalah sesuatu yang diimpikan. Apalagi kalau guru  tersebut mampu menemukan bakat-bakat terpendam dari anak didiknya.

Tidak peduli dari status ekonomi  atau mahal murahnya sekolah, selama mereka menjadi anak didik kita maka tugas mulia seorang guru harus tetap dituntaskan.

Ranieri juga bukan model seorang guru yang sering melakukan pemaksaan belajar terhadap anak didiknya, atau memaksa latihan (drilisasi) soal-soal yang begitu ketat,  atau guru yang mudah melemparkan kata-kata makian kesiswa yang katanya mampu memompa adrenaline siswa.

Ia juga tidak melakukan suap kepada lawan lain atau panitia pertandingan untuk menaikan peringkat tim di liga seperti yang dilakukan sebagian guru-guru di Indonesia saat ujian akhir kepada dinas setempat.

Ia cukup berbicara lembut kepada anak didiknya dengan kata-kata “Yes , we can!” dan selalu memberi keyakinan kepada setiap anak didiknya bahwa meeka adalah orang-orang yang luar biasa. Hmmm…

bagaimana dengan anda ?

salam blogger

penulis adalah seorang guru di sekolah pinggiran kota, hobby sekali main Futsal karena lapangan Sepak Bolanya sudah banyak digusur untuk dibangun Clutser, kasihan !

baca artikel saya lainnya di https://bangfajars.wordpress.com

Posted on 14/04/2016, in Education. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: