Suku Amish dan Kemiripan Wajah (Guru) Pendidikan Kita

amishJika kawan-kawan sudah menonton film serial Banshee (Cinemax) maka akan familiar dengan tokoh bernama Rebecca Bowman (Lili Simons). Remaja yang berasal dari suku Amish ini terusir karena melawan doktrin sukunya sendiri. Di artikel ini saya tidak akan berbicara tentang film Banshee karena ini film teramat vulgar jika masuk ke Indonesia.

Saya hanya ingin menceritakan tentang bagaimana konteks hubungan suku Amish dengan miripnya fenomena pendidikan, khususnya Guru di negara kita tercinta ini.

Semangat Anti Perubahan

Dalam penelitian Sarason (1971) ada fakta yang mengatakan bahwa telah terjadi sebuah paradigma dimana semakin lama seorang guru mengajar (bertahun-tahun) maka akan terjadi seorang guru mengalami syndrome senioritas.

Artinya adalah guru akan mengalami suatu keadaan dimana ia merasa paling “jumawa”, paling hebat, paling pintar, paling benar tanpa melakukan “upgrade” keilmuan dan absen dalam pelbagai perkembangan proses belajar mengajar disekitarnya.

Beberapa pengamat pendidikan melihat bahwa guru semacam ini akan membuat lingkungan sekolah menjadi stagnant & kaku. Lalu pada akhirnya guru tersebut akan berevolusi menjadi sangat konservatif  (baca : kolot) atau sulit menerima gagasan atas sebuah pembaharuan.

Efeknya lainnya bagi lingkungan sekolah adalah ketika tiba-tiba muncul sebuah revolusi pendidikan terbaru yang dibawa oleh pemerintah atau para generasi pendidik muda yang lebih kreatif.

Maka akan muncul sikap  perlawanan bagi guru-guru konservatif ini, baik secara reaksioner ataupun secara batiniah

Sikap ini bisa saja berbahaya bagi para guru-guru muda atau junior yang datang dengan semangat perubahan, karena mereka harus melihat contoh yang tidak baik dan bisa (ditakutkan) mereka akan meniru (imitasi, infiltrasi atau sebuah kloningisasi) atas apa yang dilakukan seniornya kelak.

Lebih lanjut dalam penelitian Sarason, efek bagi guru muda ini para senior (malah) bisa menjadi batu sandungan yang semakin menciutkan hati dalam menatap masa depan dan memantapkan karier mereka sebagai guru.

Dalam penelitian Gitlin dan Margonis (1995) dalam bukunya yang berjudul Higher Education Teaching and Learning para guru senior ini melakukan resistensi pedagogis yang tidak rasional.

Selain itu juga banyak guru (konservatif) dalam tahap ini mengalami penurunan kwalitas pengajaran, seperti diantaranya: mulai malas mengajar, malas mencari teknik baru mengajar, abai dengan muridnya sendiri, memulai konflik dengan guru yang lebih cerdas darinya serta sederet kemalasan lainnya.

Tetapi lain halnya jika ini berurusan dengan masalah uang (gaji) atau kenaikan pangkat, maka sikap semangat yang ditunjukan sangat berbeda.

Dibeberapa kasus sering kita melihat para guru-guru ini membentuk komunitas atau berkumpul dengan tipe guru yang hampir sama dengan tujuan kenyamanan psikologis.

Suku Amish Amerika

Saya jadi teringat kumpulan fenomena guru ini seperti sebuah suku pendatang di Amerika bernama Suku Amish.

Kawan-kawan, suku Amish ini adalah potret nyata suku imigran saat revolusi Amerika. Didirikan oleh seorang pendeta beraliran agama Protestan pada tahun 1730, mereka mulai membangun perkampungan  di Lancester, wilayah Pensilvania yang disebut Dutch Country.

Hampir mirip sedikit dengan suku Baduy di Banten, Suku Amish disakralkan menggunakan baju panjang menutup aurat sampai ujung kaki berwarna hitam dengan  penutup rambut bahan tipis.

Sedangkan bagi pria diharuskan menggunakan baju lengan panjang , topi lebar dan janggut dibiarkan memanjang. Haram hukumnya bagi mereka menggunakan baju dengan model yang lain.

Suku Amish memang sebuah suku yang anti modernitas (walaupun ada beberapa sekte kristen Amish yang berbeda). Nah suku yang paling keras adalah Amish dari sekte ” Old Order ” alias Amish kuno.

Secara umum pandangan hidupnya sama. Ideologinya berbasis pada kitab suci dengan mengedepankan spirit Glassenheit atau ketenangan, yang artinya sebagai kepasrahan apa adanya. Dengan dasar inilah suku Amish melakukan penolakan terhadap modernitas. Karena bagi mereka ciri dunia modern adalah “ Sadar pencitraan”.

Sedang hawa pencitraan membuat segala sesuatu menjadi high profile, bertolak belakang dengan ciri kesederhanaan dan kerendah hatian mereka.

Belum lagi pandangan mereka tentang teknologi, bagi mereka teknologi telah mengeliminasi peran manusia. Teknologi membuat masyarakat menjadi sombong, tidak tergantung satu sama lain, dan akan menjauh dari struktur masyarakat pertanian tradisional yang humble penuh penghambaan.

Sedangkan dalam dunia pendidikan anak -anak suku Amish diwajibkan hanya bersekolah hingga mereka berusia 13 tahun atau hanya sampai kelas 8. Sesudah itu, mereka tidak boleh mengambil pendidikan tinggi lainnya.

Bahkan mereka (Amish garis keras)  dilarang membaca buku selain penerbit dari suku atau komunitas Amish. Hukuman bagi suku ini  kalau ada anggota yang melanggar aturan adalah para tetua adat di sana akan dipanggil dan kelompok mereka akan menyidang secara beramai-ramai.

Mereka menyebut “to confess before the congregation “ Jika pengakuan di depan jamaah itu tidak membuat pelaku jera, maka pelaku akan dikucilkan. Mereka selalu merasa bahwa kelompoknyalah yang paling benar dan yang lain pasti bersebrangan.

 

Berbahayakah Guru Konservatif ?

Dalam sebuah penelitian Japan International Cooperation Agency (JICA) pada tahun 2008  di jenjang SMP di tiga kabupaten (Sidoarjo Jatim, Bantul DIY, dan Sumedang Jabar). Hasilnya  menunjukkan sebagian besar pendidik bisa dikategorikan sebagai guru sangat konservatif atau tidak punya orientasi pembelajaran yang jelas.

Bagi mereka menggunakan berbagai perkembangan metode belajar terbaru dan ilmiah adalah sesuatu yang sulit dan merepotkan.

Mereka, sebagaimana hasil penelitian itu, masih menyampaikan materi pembelajaran sebanyak-banyaknya tanpa memperhitungkan minat, motivasi, dan kebutuhan pengembangan diri siswa.

Sebagian besar waktu dikelas digunakan untuk menyampaikan informasi, pengetahuan, dan sekeranjang teori yang tidak benar-benar dipahami siswa. Tanpa melakukan pemantapan atas materi yang ada atau pengembangan model ajar.

Bagi mereka, ilmu yang sudah didapat (dahulu) sudah lebih dari cukup, hal ini mirip dengan suku Amish yang tidak menginginkan sebuah perubahan dan revolusi dalam proses kehidupan bahkan sejak tahun 1700-an.

Guru konservatif merasa puas kalau sudah menyampaikan informasi, teori, rumus, pengetahuan sebagaimana kurikulumnya, seakan tanggung jawab mereka telah terpenuhi. Padahal diluar sana begitu banyak perkembangan model pembelajaran walau dengan modal yang kecil.

Lebih dari itu kini banyak guru konservatif  yang mulai naik “kasta” dengan  rela melakukan kecurangan demi kecurangan, dimulai mengkatrol nilai siswa secara membabi buta, mengganti nilai rapor, melakukan kecurangan dalam ujian nasional dan siap disogok kapan pun.

Guru- guru dalam posisi ini kadang juga mengedepankan irrasionalitas, lemah dalam proses pembelajaran tetapi (bernafsu) mengedepankan hasil yang tinggi.

Seperti yang terjadi di sebuah sekolah didaerah Jawa tengah, karena mereka sudah merasa secara maksimal melakukan pengajaran kepada siswa, maka para peserta didik diajak melakukan Mujahadah,  sembari membawa botol berisi air putih untuk dibacakan doa-doa dari tokoh spiritual andalan, dan berharap ada sebuah mukzizat yang datang dari “langit”.

Lengkap sudah wajah pendidikan kita.  Sad but True

Apakah anda termasuk guru konservatif ?

 

salam blogger

bangfajar

 

Penulis adalah seorang guru yang mengajar di sekolah kecil dipinggiran kota dengan ancaman banjir yang datang kapan saja. Hobby sekali nonton Film Seri, Korenspondensi dan mencuci baju istri.

 

baca artikel saya lainnya di https://bangfajars.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted on 26/04/2016, in Education. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: