Ada apa dengan sekuel film AADC ?

aadc1Ekspetasi saya yang terlalu berlebihan pada sekuel film AADC ini tidak berbuntut manis. Beda keindahannya seperti sejak pertama kali nonton film AADC di bioskop Solo 2002 saat kuliah dulu.

Ratusan purnama yang saya tunggu demi film ini sirna begitu saja saat selesai menontonnya. Hanya harapan kosong yang menggantung disudut ruangan bioskop dan dahaga yang yang tak kunjung terpuaskan.  halah !

Ini seperti ekspetasi para penonton Descendants Of The Sun  (DOTS) yang menginginkan Dokter Kang Mo Yun menikah dengan Song Joong Ki. Tapi sang sutradara malah membuat anti klimaks ketika akhirnya Dokter Kang malah memilih Myeong Joo sebagai pasangan LGBT nya.

Ketika selesai menonton, saya seakan-akan melihat begitu banyak pikiran yang berkecamuk di hati mereka. Tak ada bisik-bisik tetangga dilorong keluar penonton, saking kecewanya kita yang sudah lama menjadi penunggu sekuel AADC  garis keras, ingin rasanya menyalakan flare berwarna merah, lalu saling merusak kursi penonton dan akhirnya buru-buru pulang untuk menonton film Uttaran.

Selain itu saya malah  hampir tidak bisa membedakan yang saya tonton ini kualitas film layar lebar atau sinetron tv layaknya film Tukang Bubur Naik Haji. Karena hampir tidak ada perbedaan dari segi kualitas cerita dan produk-produk komersial yang muncul ditengah scene.

Kecewa dengan Riri Reza dengan sederet film yang ia besut padahal ia pernah menjadi sutradara terbaik FFI , Bandung serta jagat Asian. Kecewa dengan racikan hidangan film yang harusnya mantab ia sajikan didepan saya .

Film ini sebetulnya sudah rusak dimulai sejak bagian awal, dimana tiba-tiba muncul adik tiri Rangga yang bela-belain datang ke New york untuk mencari kedai kopi milik rangga yang digarap bersama rekan-rekannya. Dengan alasan berbelit-belit adik tiri Rangga pun pokoknya (akhirnya) nyampe.

Entah bagimana akhirnya Rangga menyetujui datang ke Jogja untuk menemui ibunya. Sedangkan ditempat yang lain Geng Cinta dengan para anak buahnya bertemu kembali di sebuah galeri seni milik Cinta.  Disana sudah ada Maura (Titi kamal) , Milly (Sissy P)  dan Karmen (Adinia W), di sekuel ini Karmen digambarkan baru sembuh dari narkoba yaitu kecanduan ngelem, minus sosok Ladya Cheryl yang katanya lebih mementingkan persiapan UN dari pada ikut syuting AADC2. dahsyat nak!

Inti dari reuni kecil-kecilan itu mereka bersepakat akan main ke jogja. tuhkan , sudah kebaca.

Anda pasti sudah dapat menebak ? Cinta ke jogja dan Rangga ke jogja…hhmm…dalam benak kita semua pasti bakal terjadi hal-hal yang diinginkan . eng ing eng!

Tapi sayang pertemuan antara Rangga dan Cinta dalam film ini tidak digarap begitu dahsyat oleh sutradara sebagai puncak emosi jiwa penonton yang lelah menunggu ratusan purnama lamanya.

Ternyata pertemuan Rangga dan Cinta tidaklah seheboh film The Vow ketika Channing Tatum berupaya mendapat kan istrinya kembali dengan memancing ingatan nya melalui makanan dan tempat yang mereka berdua pernah sukai.

Atau semesra film A Moment To Remember, dimana Jung Woo-Sung berusaha mendapatkan kembali istrinya  dengan hal-hal yang pernah mereka lalui seperti bermain baseball atau bertemu di supermarket saat pertama kali mereka berjumpa.

Juga tidak sefantatis momen berdarah-darah saat Naruto melawan Sasuke, dimana banyak sekali jutsu-jutsu yang dikeluarkan dan belum pernah dimunculkan dalam episode-episode sebelumnya.

Tetapi mengambil istilah bang Hans (seorang kritikus film) film ini termasuk garing paripurna. bagaimana tidak?

Justru pertemuan antara Rangga dan Cinta yang seharusnya memiliki efek trauma percintaan klasik Hollywood nantinya ini cuma dimulai dari pertemuan terpaksa di sebuah galeri dan berlanjut di sebuah kafe dengan dialog-dialog tak penting.

Ditambah lagi kemampuan intonasi Dian Sastro saya anggap minim emosi, jujur saya kecewa. Ya walaupun masih ditutupi dengan kecantikan Dian Sastro. Karena kalo ingat Dian Sastro saja jadi ingat istri saya. halah !

Selain kebencian masa lalu yang begitu membara karena diputusin Rangga, ternyata anehnya dalam film ini Cinta malah mau-mau saja diajak jalan-jalan oleh Rangga, mirip cabe-cabean kota-kota besar yang ikhlas dibawa kemana-mana pada malam hari asal pake motor walaupun cuma nonton kendaraan di flyover, pun jajannya cuma pake gorengan dan air es mereka oke-oke saja.

Kemarahan cinta kepada Rangga ternyata tidak seperti marahnya tokoh Rabbit (Ben Cross) terhadap Lucas Hood (Antony Star) dalam film Banshee karena telah merebut anaknya satu-satunya.

Tetapi kemarahan Cinta mengingatkan kita seperti surat kemarahan Capten Amerika kepada Iron Man dibagian akhir dalam film The Civil War. Benci tapi nafsu.

Selain itu kebosanan lattar dalam film ini terlalu banyak, seperti adegan di warung kopi, joged-joged bersama rapper  Kill D DJ di diskotik, cafe gak jelas dan lain sebagainya.

Gak hanya satu dua jam, Cinta bahkan “hanyoo aja” di ajak muter-muter Jogja- Magelang bahkan sampai menjelang pagi. Di scene akhir jalan-jalan Cinta pun gak curiga mau di bawa ke sebuah “bedeng sepi” entah berantah di daerah Magelang hanya untuk melihat matahari terbit. Kamu nakal Cinta!

Dan Cinta pun tidak takut padahal kan dia masih perawan?

Kenakalan Cinta ternyata belum selesai, pagi setelah Rangga mengantar Cinta kembali ke penginapan Cinta malah “menghajar” Rangga dengan senjata utamanya seperti saat di bandara di film AADC, yang pasti bukan dengan golok naga beracun.

Dan Rangga sekali lagi pun … siap menerimanya…dengan ikhlas…ya iya lah namanya juga laki…

Sebuah kenekatan warbiayasa dari seorang Cinta yang belum juga menikah.

Padahal sebetulnya Cinta baru saja bertunangan dengan seorang laki-laki berbadan besar, berotot kekar, tajir , berbulu dan berkulit maskulin. Kurang apalagi ? persis tokoh Boog dalam film Open Season.

Sudahlah saya tidak mau bermaksud menghadirkan spoiler disini bahwa yang pasti Cinta tidak akan menikahi kedua laki-laki ini secara bersamaan, soalnya itu dilarang agama.

Kalau mau tahu ending-nya seperti apa silakan deh anda tonton saja, dan saya sibuk menyesali kenapa saya kok mau menulis artikel ini.

salam Blogger

bang fajar

kunjungi tulisan saya lainnya di https://bangfajars.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

Posted on 12/05/2016, in Review Film. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: