“Surat Cinta” Tukang Cilok Untuk Pak Jokowi

Resep-Cilok-Khas-BandungPerkenalkan pak Jokowi nama saya Asep panggil aja bang Ricky, saya seorang tukang cilok yang sering kongkow dengan grobak mini di gang mandor daerah Bekasi.

Saya mau curhat nih pak jokowi…..curhat dooong aaaa…..halah !!!.  Pas bulan Romadon gini namanya lagi puasa dagangan pasti sepi termasuk dagangan saya, biasanya dihari biasa bocah-bocah udah pada bergerombol beli cilok saya, karena selain ada cilok rasa original, cilok saya juga punya keunggulan lain dengan meng-combine cilok rasa Marshmallow dilapisi Jeju, cilok Nutella bahkan cilok Taco.

Kebayangkan pak bagaimana ramainya dagangan cilok saya, apalagi bagi para pembeli rutin saya biasa beri voucer menginap di hotel berbintang di Bandung agar semangat terus membeli di cilok saya.

Kini pada saat bulan puasa saya sering pusing …kenapa? soalnya saat saya keliling-keliling gak ada yang beli, memang jam buka saya saat Romadhon berbeda, khusus bulan ini saya berjualan dari jam 7 pagi sampai setengah enam sore kemudian jam 17.30 saya pulang kerumah untuk persiapan berbuka.

Kini setiap saya datengi pelanggan anak-anak disiang hari, mereka pada lari buru-buru ke masjid ambil wudhu lalu sholat tobat … bahkan kaum hawa yang biasanya gemes lihat cilok saya mereka berusaha pura-pura gak melihat, sakit pak hati saya,  saya gak bisa diginiin.

Pak Jokowi yang saya kagumi …

Tetapi pak,  kemarin saat saya sedang santai di rumah bersama istri dan anak pertama saya yang sedang kuliah di Unpad, saya melihat sebuah stasiun televisi nasional menayangkan seorang pemilik warteg yang di razia oleh satpol PP di  Serang, Banten.

Seorang ibu bernama Saeni dengan dramatis berteriak memohon agar dagangannya tidak diambil oleh satpol PP. Sedangkan satpol PP tetap bersikukuh bahwa ibu itu melanggar peraturan Perda Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat.

Kalau menurut saya memang secara prosedur apa yang dilakukan oleh satpol PP sudah benar tetapi cara yang dilakukan satpol PP memang sedikit agak kasar, sedangkan apa yang dilakukan oleh ibu Saeni secara teknik sudah benar tetapi cara penjualannya yang salah. bingung kan?

Lah iya lah secara teknik bu Saeni ini sudah benar teknik memasak ala wartegnya bahkan beberapa bapak-bapak masih sempet ngupi dan makan diwarung itu saat digrebek. Salahnya adalah sudah tahu bulan puasa dan ada edaran tapi masih nekad buka.

Kalo ngelihat tayangannya ditelivisi saat barang dagangan ibu Saeni di sita satpol PP saya jadi ingat teriakan Peggy Hodgson (Frances O’Connor) ketika bertemu Valak (setan di film conjuring 2). Atau teriakan lady Sansa stark ketika mengetahui bahwa ia bakal dinikahi lord ramsay yang sadis dari klan kerajaan Bolton dalam film Game of Throne.

Teriakan bue Saeni nyatanya mampu menggugah air mata netizen semua untuk berempati dan ikhlas merogoh kantongnya, menegangkan, pilu sekaligus horor.

Karena dengan suasan batin yang luar biasa akhirnya dengan berapi-api beberapa media pun menyiarkan langsung dengan bingkai penuh keibaan sambil membawa pesan tersembunyi bahwa perda pelarangan membuka warung makan saat Ramadhan adalah sesuatu yang intoleran dan bertentangan dengan UUD.

Pak Jokowi yang terhormat…

Mungkin kita masih ingat saat perayaan Nyepi di Bali bersamaan dengan gerhana total saat itu. Pemerintah daerah Bali sesuai rapat yang dilakukan pihak terkait, mengizinkan umat islam untuk melaksanakan Salat Gerhana saat Nyepi. Para orang muslim Bali pun disilakan mencari masjid terdekat rumahnya, tapi syaratnya mereka tidak diperkenankan pakai pengeras suara maupun mengendarai kendaraan. Dan mereka okeh-okeh saja.

Bahkan saat saya harus menghadiri pertemuan Tukang Cilok Internasional yang dilaksanakan di Nusa 2 Bali dalam rangka sosialisasi ukuran bentuk cilok se-dunia saya pun terpaksa membatalkan kunjungan saya, karena pada saat itu bandara di Bali tutup 24 jam dan terpaksa 422 penerbangan reguler pun tidak beroperasi saat Nyepi. naas kan tapi saya santai saja.

Dan sebetulnya wajar-wajar saja kalau kota Serang Banten atau daerah lainya seperti Aceh, Bali, Papua, Jogja, Purwakarta dll membuat perda dengan kultur sejarah masyarakatnya.

Termasuk juga ada perda kewajiban seperti belajar malam, mengkhatamkan Al Qur’an, mungkin saja asbabul nuzulnya para pemimpin daerah bangsa kita miris melihat generasi remaja yang kian rusak dengan bahaya pemikiran liberal dan serangan budaya asing yang makin membabi buta. Tapi kan peraturan itu hanya berlaku untuk pemeluk agama tertentu. yang lain mah bebas-bebas aja eui!.woles aja kalee…

Dan wajar saja jika pemerintah daerah Serang Banten membuat perda tersebut,  mengingat sebetulnya sejak abad ke 16 Islam sudah masuk ke daerah pesisir Banten. Penyebarannya sendiri dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Maulana Hasanudin untuk menyebarkan secara perlahan-lahan ajaran agama Islam daerah Banten sampai sekarang.

Tapi bagaimana lagi ya pak jokowi, isu ini kian memanas, bahkan mendagri Tahjo Kumolo berencana akan menghapus 3000-an perda yang dianggap melanggar HAM, intoleran ,merusak iklim investasi dan mungkin saja termasuk perda islami (syariah).

Ya mungkin saja salah satu arahnya menganulir perda instruksi Bupati Lebak Nomor 190/ADM.Kesra/V/2016 tentang Larangan Kegiatan dalam Bulan Suci Ramadhan Tahun 1437 Hijriah/2016 dan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Penyakit Masyarakat yang dikeluarkan Wali Kota Serang dan Majelis Ulama Indonesia Kota Serang.

Entah bagaimana ya beberapa publik juga akhirnya merespon dengan bentuk kebencian yang terselubung. Ibu Saeni yang kemarin menjadi “bintang” razia satpol PP pun di banjiri uang donasi, kisarannya sekitar 200 Jt an, Bapak sendiri saya denger katanya sampai menyumbang 10 juta …widih!!!…. Alasan yang menyumbang pun beragam mungkin salah satunya kasihan karena saat Ramadhan dagangan nya sepi.

Lah sama…saja juga sebagai tukang cilok juga gak jauh beda…dagangan saya juga sepi pas Ramadahan, tapi gak ngambek.

Harusnya kalau mau adil saya juga dapat donasi dong dari masyarakat. Sebetulnya pak saya sudah punya rencana kalau nanti saya dapat donasi dari masyarakat karena gerobak saya di angkut Satpol PP, yaitu  saya akan pasang wajah sendu saat diwawancarai kru televisi dan menjerit sekeras-kerasnya saat di cubit satpol PP, lah!.

Dan uang donasi tersebut rencananya akan saya buat belikan kuota Internet. Sehingga para anak-anak dan ABG yang beli cilok di tempat saya saya bisa make free internet saat makan cilok …kerenkan!

Selain itu juga untuk mbayar KKL kampus anak saya yang rencananya mau studi banding ke Suriah.

Toh pak Jokowi …Bu Saeni juga ternyata gak miskin-miskin banget, di koran saya juga baca (bener apa salah) kalau ternyata bu Eni memiliki tiga cabang warteg. Masing-masing cabang tersebut terletak di daerah Cigabus, Kaliwadas dan Tanggul. Tak tanggung-tanggung, bu Eni juga disebut mampu menguliahkan anak-anaknya. Nah … sama saya juga.

masak dia masih mau cari untung gak bener di siang hari saat romadhon? emangnya kalo sore pas magrib sepi?

Dan masak pak Jokowi gak tahu kalo rata-rata pemilik warteg kaya-kaya.

Gak percaya ?

Coba kunjungi kampung warteg di Desa Sidakaton, Kelurahan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Disana tuh berjejer rumah mewah mirip komplek perumahan elite di Jakarta. Dan mayoritas rumah-rumah itu dimiliki oleh para pedagang warteg. Bahkan kepala desanya bilang kalau hampir 50 persen di kampung tersebut semua pengusaha warteg.

Sebagai tukang cilok yang diplomatis, politis dan narsis jujur saya agak kecewa dengan sikap pak Jokowi. tapi sudahlah mudah-mudahan pak Jokowi tidak asal mudah menghapus peraturan daerah karena sebuah kejadian yang masih bisa diperdebatkan.

Kasian juga kan para para anggota DPRD dan kepala daerah yang berbulan-bulan merancang perda tapi hanya dihapuskan dalam waktu semalam. toh kan pak jokowi juga pernah jadi kepala daerah Solo.

Sudah dulu ya pak..saya masih ngetem dipinggir jalan sambil mengharap ada satpol PP yang tergoda untuk merazia gerobak cilok saya yang berwarna Pink ini….

 

 

salam Blogger

bangfajar

penulis adalah seorang pengajar di sebuah sekolah kecil dipinggiran kota besar. Dan pengagum berat cilok yang terbuat dari tapioka kenyal. Sempat trauma makan cilok karena habis makan aci trus kecolok. jiaah!

 

baca artikel lainnya di https://bangfajars.wordpress.com

Posted on 17/06/2016, in 1. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: