GTA SA dan Guru Indonesia

gta_SA_360Lupakan sudah eforia kemenangan dramatis Portugal di Euro 2016 atau kisah Ibu Nurmayani, guru SMP Negeri 1 Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan yang yang harus mendekam di balik jeruji karena dipolisikan oleh orangtua dari anak didiknya.

atau juga kisah guru bernama Raden Rachmat di Dusun Serbo, Desa Bogempinggir, Kecamatan Balongbeno, Sidoarjo, yang dipolisikan atas kejadian pencubitan kepada siswanya pada 3 Februari 2016 lalu.

Walaupun akhirnya sang anak pelapor mendapatkan sangsi hukum sosial yaitu semua guru di Jawa timur kompak untuk menolak menerima siswa tersebut masuk disekolahnya.

Tapi ingatlah bahwa masih ada “sisi kelam” guru yang juga harus adil diberitakan kepada media bahwa masih banyak guru berlalu curang secara sistemik dalam ujian khususnya dalan Ujian Nasional 2016 kemarin.

Kecurangan UN 2016 masih ada

Dalam laporan FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) Mei 2016 aduan kecurangan UN banyak terjadi didaerah Lampung, Pontianak, Medan, Jakarta, Surabaya, dan Cikampek

Salah satu aduannya kecurangan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di Lampung. Para guru dilaporkan memasuki ruang ujian atas perintah kepala sekolah untuk membantu peserta UN mengerjakan soal.

Sedangkan di Bandung, ada lembaga bimbel untuk terilbat dalam suplay jawaban kepada murid-murid yang bisa di akses melalui media sosial.

Walau pemerintah mengakui secara statistik kecurangan UN 2016 di SMP dan SMA/SMK menurun dikarenakan penggunaan UNBK, tetapi tidak halnya terjadi di jenjang SD, mengapa ?

Kecurangan sistematik di jenjang SD akan terus berlangsung mirip istilah revolusi sunyinya anas Urbaningrum. Tenang dipermukaan tapi arus deras selalu bergerak di bawah permukaan.

Selain karena kelemahan menggunakan satu tipe soal, pada jenjang SD masih memakai sistem tulis, selain itu masih ada budaya birokasi “kekeluargaan” yang dipertahankan.

Istilah kekeluargaan maksudnya adalah sebagian guru dan pengawas sepakat memaklumi dan membiarkan kecurangan ini terjadi. Sehingga LJK yang diubah langsung oleh oknum guru di sekolah setelah pengawas pulang dianggap woles saja.

Bahkan kini muncul dugaan baru yaitu pengubahan hasil LJK bukan lagi dilakukan di kelas tetapi dilakukan disebuah “Safe House” sebelum diserahkan ke panitia ujian.

Siapakah yang dirugikan ? sangat dipastikan lagi-lagi sekolah SD dengan rating dan mempunyai daya saing tinggi akhirnya terlempar dari klasemen peringkat nilai UAN, mereka harus merelakan di “kadali” dengan sekolah SD antah berantah yang sebelumnya mendapat nilai rendah dalam simulasi ujian.

Dualisme wajah Guru Kita

Mengutip sebuah pepatah yang populer dalam bahasa Portugis: Quem vê cara, não vê coração yang berarti “siapa yang hanya melihat wajah, tak akan dapat melihat hati”.

Pepatah itu mengajarkan betapa mengecohnya segala yang tampak di permukaan. Pepatah itu dapatlah diwakilkan lewat idiom Inggris yang sudah klasik: “Don`t judge a book by its cover.”

inilah wajah kedua guru dibalik tugas mulia sebagai pendidik…

Tapi sudahlah toh umur guru seperti ini tidak ada yang panjang, saking kesalnya seorang teman berujar ia berharap guru, kepala sekolah dan pejabat yang terlibat dan yang curang ini mohon di “cancel” masuk syurga, setidaknya untuk 10.000 tahun lamanya.

Guru dan CJ di karakter GTA

Ternyata karakter sebagian mental guru Indonesia mengingatkan kita dengan seorang tokoh dalam karakter game Grand Theft Auto atau yang lazim di sebut GTA. Di dalam game buatan Rockstar North ini terdapat seorang tokoh utama nan protagonis bernama CJ atau dipanggil Carl Johnson.

Dalam penokohannya CJ digambarkan seorang yang mempunyai kontrol penuh dalam permainan. Ia tokoh yang ingin dihormati, punya stamina atau postur tubuh yang macho, dan ia bebas memiliki gaya rambut, pakaian, uang, kendaraan, dan lain sebagainya.

Dalam game ini CJ melakukan banyak misi, seperti misi mengemudi, memburu bahkan membunuh orang, kencan dengan pacar, membantu teman, menyelamatkan seseorang, mencuri, bekerjasama dengan partner, perang antar gangster dan sebagainya.

Sampai-sampai ESRB (atau lembaga sensor game) memberikan rating M (mature 17th) karena sangat berbahaya jika dimainkan anak-anak dibawah 17 tahun.

Guru-guru macam GTA ini dilapangan bisa menjadi dua tokoh sekaligus (antagonis dan protagonis) bahkan lebih, mereka mirip dengan gadis bernama Sybil dengan 16 kepribadian yang dinovelkan pada tahun 1973.

Pagi ia bisa menjadi tokoh agamawan dan motivator bagi muridnya…saat jelang ujian ia berubah menjadi God Father yang siap menerima bisnis kelulusan.

Jangankan pekerjaan halal, pekerjaan haram seperti terlibat kecurangan dalam Ujian pun siap mereka lakoni.

Tidak ada yang beda bagi oknum guru dan prinsip hidup CJ,  dalam game ini mereka punya sikap : singkirkan siapapun yang menghalangi lakukan apapun yang kau mau, makan, minum, berkencan, melukai, membajak, dan maksimalkan respectmu agar ditakuti dan dihormati oleh siapapun.

Pendidikan yang tidak berpendidikan

Menyaksikan tingkah polah mereka kiranya ada penggambaran yang cocok yang mungkin bisa di samakan para oknum guru ini dengan seorang maestro Portugal. Dalam karyanya berjudul, The Book of Disquiet, penyair legendaris Portugal, Fernando Pessoa, menulis dengan persistensi yang tegas.

ia mengatakan “Saya selalu menolak dipahami. Berusaha dipahami berarti melacurkan diri. Saya memilih menjauh dari apa yang bukan menjadi jati diri saya, secara manusiawi tetap tak dikenal, secara alami, dengan segala hormat.”

Entah kalimat sindiran apa lagi yang bisa membuat mereka tidak mengulangi kembali hal ini.

Lalu kira-kira apa yang dirasakan para pengajar SMP ketika mereka tahu bahwa anak didik yang mereka terima berasal dari karbitan mendadak sebuah ilusional semu pendidikan.

Situasi ini mirip ketika pelatih Portugal Fernando Santos tidak punya pilihan dengan memasukan Eder di babak final UERO 2016 yang sering dijuluki “si bebek buruk rupa”.

Tapi apakah mereka (murid-murid) bisa seperti Eder yang akhirnya membuktikan dirinya adalah antitesa dari “si bebek buruk rupa” menjadi “seekor angsa yang cantik?”

Sulitkan? karena mereka adalah produk kecurangan sekaligus kejahatan sistematis yang musti dipertanggungjawabkan para guru di jenjang sebelumnya?

ah sudahlah … bicara guru Indonesia ini seperti kisah sinetron India yang tak pernah habis…

Lebih baik saya rematch pertandingan Final UERO 2016 antara Portugal dan Prancis di PS4 saya , karena saya belum rela Prancis kalah oleh tim yang pernah menjajah Indonesia ini….huh!

salam Blogger

BangFajar

Penulis adalah seorang guru yang mengajar di sekolah kecil dipinggiran kota, seorang gamer , Dreamer sekaligus nglindurer. halah!

kunjungi blog nya di https://bangfajars.wordpress.com

 

sumber :

thanks for

Pandidfooball.com dan FSGI

Posted on 13/07/2016, in Education, renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: