Full Day School apa Full “Romusha” at School ?

ngantukSelain heboh kakek lincah asal Yogyakarta yang “bangkit dari kubur” dan heboh rencana pemerintah menstabilkan harga sapi dengan cara mengimpor jeroan asal Australia, ternyata headline berita di Indonesia belum selesai sampai disitu. Tengok saja rencana Mendikbud (Muhadjir) baru pengganti Anies Bawesdan yang berencana memberlakukan full day school bagi tingkat SD dan SMP, menurut gosip katanya konsep ini pun sudah direstui wapres Jusuf Kalla.

Saya sebetulnya juga menyesalkan mengapa bapak Mentri Anies Bawesdan (AB) begitu cepat diganti oleh pak Jokowi, jujur saya agak merasa kehilangan. Bahkan sebagai penghormatan kepada Anies Bawesdan semua mobil dan motor di Jogja kompak masayarakatnya memasang simbol AB di plat nomor nya.

Kembali ke masalah full day school, sebetulnya konsep full day school ini banyak berkembang di negara-negara maju seperti di Jerman, Eropa dan Amerika. Latar belakang berdirinya, ya karena sekolah di sana lebih banyak liburnya dibandingkan masuknya, berbeda dengan di Indonesia yang minim sekali libur, bahkan kadang sabtu atau seminggu mau lebaran saja masih masuk🙂.

Berbeda juga masa libur sekolah diluar negeri dimana terdapat 4 musim, pada musim panas dan musim dingin misalnya, libur sekolah bisa sampai dua bulan. Karena itulah para siswa di negara-negara tersebut disarankan mendapatkan pelajaran tambahan. Akhirnya umumnya sekolah di sana menerapkan sistem full day school.

Menurut hemat saya konsep Full Day School tidak cocok untuk dipakai disemua kalangan di Indonesia (catat ya..tidak semua kalangan ) berikut alasan saya.

*Pelajaran di Indonesia terkenal horor dan tak kenal ampun*

Bayangkan dipelajaran kelas 2 saja sudah ada perdebatan konsep mengenai 2×4 dan 4×2 yang sempat menghebohkan dan meramaikan jagad media nasional. Selain itu kini anak-anak SD di Indonesia sudah di “hajar” dengan calistung dan kerap dilombakan di pentas kota dan propinsi.

Ya… walaupun mengutip Prof Yohanes Surya bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dengan metode yang benar.

Tetapi masalahnya sebanyak dan sepintar apapun gurunya dengan materi yang berjubel maka pusing juga anak-anak dan orang tua dirumah, kadang mereka harus menambah kocek untuk memanggil guru les privat.

Ditambah lagi pelajaran-pelajaran SD di Indonesia itu terkenal super buanyak dibandingkan pelajaran diluar negri, tercatat ada MTK, IPS, IPA, PLH, PKN, TIK, Agama, KTK, B.ind, Inggris, Penjas, B, Sunda dll.

Kata seorang blogger yang lama sekolah di USA membandingan Mata pelajaran anak SD dan SMP di Indonesia itu perbandingannya bisa bisa mencapai 10-13 mata pelajaran.

Membandingkan pelajaran SMP indonesia dan luar negeri juga mengerikan…lihatlah pelajaran yang diampu di SMP luar negri. diantaranya ada Mata Pelajaran Math, Science / Ilmu Pengetahuan (That includes Chemistry (Kimia), Physics (Fisika), and Biology (Biologi), History (Sejarah), Geography (Geografi), Art (Kesenian), Foreign Languages / Bahasa Asing, English, Literature / Kesastraan, Information Technology dan Sports.

Hanya ada 9 pelajaran

Sedangkan di Indonesia mata pelajarannya SMP nya meliputi : Bahasa Indonesia,Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (meliputi Fisika, Biologi, dan Kimia), Ilmu Pengetahuan Sosial (meliputi Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan Sejarah), Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Seni Budaya, Keterampilan (meliputi Tata Boga, Tata Busana, Elektro, dll), Olahraga, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK / Tikom), Bahasa Daerah, Bahasa Inggris dan Pelajaran Ekstrakulikuler

Hanya ada 18 pelajaran …jiah ..hanya!

Setiap minggu siswa kita juga diharuskan (baca: dipaksa) menghadapi pelajaran yang beda-beda, harus dihafalin, harus diplotoin,  harus dilaksanain dalam kehidupan sehari-hari, belum lagi jadwal ulangan yang engga-engga. Otak pelajar Indonesia itu super. Belum lagi genda remedial yang siap waiting list. dahsyat kan ?

Melihat begitu banyak materi tersebut seharusnya para jebolan pelajar Indonesia bisa seperti *Walter O’Brien* seorang jenius asal amerika yang mempunyai IQ 197 seorang ahli komputer serta matematika. Bahkan difilmkan dalam serial Tv Scorpions.

*Mau di bayar berapa gaji guru?*

Pak Muhadjir yang terhormat … pasti sudah memikirkan dampak memberlakukan Full day School bagi tingkat SD dan SMP. Karena setahu saya Full day school ini rata-rata di gunakan oleh sekolah swasta (baik Sekolah Islam Terpadu atau beberapa sekolah reguler) mapan yang mempunyai SPP bulannya berkisar antara 500 rb sampai diatas jutaan rupiah.

Sudah begitu rata-rata para guru swasta yang mengajar seharian penuh ini diganjar dengan rupiah dan dollar yang melimpah ruah,  ya… walaupun ada juga pemilik sekolah a.k.a Yayasan full day school yang kurang melimpah alias pelit he..he..he…. La… wong teman saya saja yang sudah mengabdi 17 tahun disekolah swasta itu masih digaji 1,7 juta. hadeuh….

Nah ..masalahnya bagaimana dengan sekolah negri yang faktanya masih banyak terdapat ribuan guru Honor dan TKK (Non PNS). Apa Bapak serius sekolah SD negri juga akan diberlakukan Full Day School? dan apa Bapak tahu jumlah guru Honor dan TKK yang sedang mengabdi disana ? serta berapa gaji yang mereka terima setiap bulannya ?

Sebagai perbandingan seorang guru Honor cantik bernama Rizma Uldiandari asal Tegal rela mendapat gaji Rp 75 rb perbulan.

Dibeberapa daerah malah gaji mereka berkisar antara 200 rb sampai 900 rb rupiah. Membeli rumah, kendaraan , membayar SPP sekolah anak, rencana kuliah lagi dan apalagi niat kawin lagi adalah mimpi isapan jempol disiang bolong….

Bayangkan bagaimana mbak Rizma yang cantik seperti model film Cannes itu harus menjaga kulit mulusnya jika bekerja di sekolah dari pagi ( jam 07.00) sampai sore ( jam 15.00) dengan gaji sekecil itu? belum lagi kebutuhan harian dan bulanan yang juga harus dipenuhi.

Apa pak Muhajir sudah update harga lipstik dan alas bedak terbaru? belumkan ?

kalau bapak tahu sekarang harganya gila-gilaan pak. Padahal para guru-guru ini diminta untuk tampil prima dan wajah rona ceria didepan siswa? apa bapak rela mereka pakai spidol untuk pengganti lipstik atau bedak MBK untuk alas bedak. ngenes!

Bapak mau kita dilihat oleh siswa dengan keadaan “payah” . Muka penuh minyak, rambut awut-awutan, badan kurang gizi, perut busung lapar dan baju belel sana sini. Tidak seimbanglah seabreg tanggung jawab dan rupiah kepantasan yang harus kami terima.

Kadang malah kita mirip mbak-mbak supermarket dan sales girl  yang harus selalu tampil menarik didepan konsumen tapi kadang lusuh dirumah.

Kalau saja pak Muhajir nekad memberlakukan kebijakan ini maka selamat datanglah perbudakaan wajah baru bagi guru-guru Indonesia. Kerja pagi sampai sore dengan gaji mirip buruh tani pedalaman.

*Nawacita yang kebablasan*

Pak Muhajir juga mengatakan bahwa program pendidikan ini sesuai dengan yang ada di Nawacita, dimana ada pendidikan budi pekerti dan karakter. Dan itu ada dalam pendidikan di level dasar. Porsinya pendidikan dasar itu, 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen pendidikan pengetahuan.

Bapak juga mengatakan dalam Nawacita ukuran pendidikan dasar itu ada 18 butir. Mulai religius, karakter, kreatif, mandiri, cinta Tanah Air, dan seterusnya. …tapi apa iya hanya gara-gara itu harus terjadi penambahan jam pelajaran. melihat materi anak SD yang sudah “bejubel” apalagi kalau melihat materi Kurikulum 2013 yang penuh keabstrakan.

Yang ada anak-anak kita bisa “stress berjamaah” … seharusnya paket kebijakan ini disesuaikan dengan muatan materi yang simple.

*Agar mudah dikontrol oleh Keluarga*

Saya tahu bahwa alasan selain Nawacita adalah anak yang mengikuti program Full Day School mudah di kontrol oleh orang tua. Pak Mentri beralasan dengan lamanya siswa di sekolah maka peluang siswa untuk tercemar atau tren menjadi cabe-cabean dan terong-terongan di mall secara kuantitas statistik makin berkurang ? hal ini tidak sepenuhnya benar. karena kini banyak juga lingkungan sekolah yang justru bisa merusak karakter siswa.

Pertanyaan mendasar adalah apakah sekolah sudah memberi jaminan bahwa sekolah itu ramah anak ? Ramah anak persis seperti apa yang diungkapkan Arist ketua komnas Anak, yaitu sekolah yang memiliki proses belajar mengajar dan membuat mereka senang di sekolah. Selain itu, kurikulum yang diterapkan juga tidak boleh membuat para siswa malah menjadi tertekan.

Justru dengan menambah jam belajar anak maka frekuensi seorang anak bertemu dengan orangtua akan menjadi minim. Anak sudah lelah saat pulang dan malam harus fokus mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ujung-ujungnya mereka buru-buru tidur karena paginya mereka harus sudah ada dibangku sekolah.

ini siswa apa buruh pabrik pak?

Bagi orangtua yang “nakal” ini akan jadi modus. Bagi mereka sekolah bisa menjadi ajang penitipan anak gratis, karena mereka tidak harus repot memantau siswa dirumah, dengan begitu bisnis rumah makin menjamur. Bahkan banyak yang merasa kalau bisa tuh anaknya sekalian di inapkan disekolah, karena ketidakmampuan mereka mendidik serta menjaga anaknya sendiri dirumah, bagi mereka mengurus anak bisa menjadi batu sandungan dan mengganggu urusan pribadi mereka.

Kalaupun ini saja belum belum selesai terkonsep maka Full Day School akan tetap menjadi retorika panjang yang tak berkesudahan. Hmmm…

salam blogger

*bangfajar*

diartikel berikutnya akan saya ulas bagaimana konsep SD Full day school di sekolah Helsinki’s Strömberg School Finlandia

 

Penulis adalah seorang guru yang mengajar di sekolah kecil dipinggiran kota

kunjungi blog nya di https://bangfajars.wordpress.com

thanks buat web http://adindasiwi.blogspot.co.id/

Posted on 09/08/2016, in renungan. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. I'ik Tri Rejeki

    Tulisan keren pak Guru. Saya hanya tebalkan 1 point aja: full day school belum cocok untuk semua kalangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: