Awkarin, Jesica dan Marwah …. Hhhmmm

srikandi-senopati-cropresizeSebelumnya kita mengenal Srikandi dalam tokoh pewayangan versi jawa dan India. Srikandi selalu  digambarkan sebagai sosok perempuan yang tangguh dan gagah, secara asal-usul Srikandi sama-sama dikisahkan merupakan anak dari Drupada, Raja Pancala.

Dalam kisahnya ia menjadi penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara. Bahkan ketika perang Bharatayuddha, Srikandi juga bertindak sebagai senapati perang Pandawa yang menggantikan Resi Seta. Ini srikandi macho banget…

Di artikel ini saya tidak sedang mencoba berbagi kisah wayang yang sering saya dengar saat masih dibangku sekolah. Walaupun sampai saat ini saya masih suka mendengarkan lakon wayang kulit sebelum tertidur.

Terlepas dari sosok Srikandi versi pewayangan ternyata ada juga srikandi yang kadang sulit saya pahami, mereka adalah “Srikandi” yang mewakili 3 generasi dan rentang usia yang berbeda.

Jujur sebetulnya membicarakan 3 srikandi ini bukan urusan saya tapi berhubung tangan udah gatel pengen nulis …. yah mau gimana lagi.

Srikandi #1 Awkarin

Pemberitaan kisah remaja bernama Awkarin memang sempat menghebohkan jagad sosial media di pertengahan tahun 2016, gimana tidak? cewek bernama asli Karin Novilda ini terkenal siswa teladan karena mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi saat masih duduk dibangku SMP Riau. Menurut info yang saya dapat rata-rata nilai karin adalah 9,5 dari total seluruh pelajaran.

awkarin

keren beud …bahkan nilai UN SMA saya gak sampai segitu, dah gitu mantan walikelas SMA saya malah bangga ketika melihat nilai UN SMA saya ternyata pas-pas an, soalnya saya dulu dikelas paling sering …ah sudahlah—(lah kok malah curhat).

Tapi metamorfosis Awkarin muda saat itu baru saja terbentuk, entah apa karena Jakarta mampu menghipnotis para pendatang baru semacam Karin dari berbagai sisi hitam putih dan kemajuan teknologi secara seragam? atau karena pergaulan yang semakin tipis batas norma-normanya atau mungkin saja “jaring-jaring” keluarga yang sudah terlepas satu persatu. Buktinya? tukang sayur di Jakarta aja sudah punya grup Whats App tentang kondisi kekinian peta konsumsi dagangan mereka…jiah

Saking “kerasnya” pergaulan hidup di Jakarta plus virus bernama gagdet yang luar biasa, Awkarin yang masih ABG dan unyu-unyu ini berubah menjadi Ababil alias ABG labil, yang dengan mudah tanpa tendeng aling-aling mengunggah kisah drama cintanya melaui Vlog (taukan Vlog? itu loh cat semprot sering dipakai anak STM) dan menyebar cepat menjadi viral.

Masalahnya kalau mengunggah kisah cintanya seperti Ainun dan Habibie atau kisah cinta Hanum salsabiela dan Rangga Almahendra dalam film 99 Cahaya dilangit Eropah mungkin bagus-bagus saja. Nah ini ada anak kemarin sore yang bergaya pacaran layaknya suami istri.

Saya sih sudah gak kaget…la wong anak SD saja sekarang sudah manggil papah mamah….jiah…

Bagi para aktivis pendidikan hal yang dilakukan Karin ini sangat mengundang resiko “contek massal”, apalagi melihat jumlah followers Akwarin yang menyentuh jumlah ribuan. Ditakutkan bagi para bunda-bunda aktivis ini perilaku remaja yang diwakili Awkarin adalah sesuatu yang wajar dan menjadi pembenaran atau lazim bagi budaya sosial terbaru atas fenomena remaja Indonesia.

Bagaimana mereka tidak kecewa…sisi vulgar Awkarin dalam sosmed diperlihatkan secara utuh dan merdeka, seperti (maaf) ciuman bersama pacarnya, pose-pose smelehoy, kerap memakai baju yang kurang bahan, celaan dan umpatan yang cenderung kasar, Tatoo dilengan kiri bergambar bunga (ialah siapa yang mau di tato gambar kanjeng dimas)  menjadi sajian para penikmat dunia maya, yang masih rata-rata diusia muda.

Bahkan ketika suara-suara penolakan dan kritikan semakin deras dialamatkan ke Awkarin. Ternyata semua itu dibalas Karin dengan mengeluarkan single rap (bukan Qosidahan pastinya) berjudul “Bad”  bersama Young Lex.

Kalau saja kita simak lirik tersebut maka akan didapati lirik-lirik “perlawanan” dari kritik kepada dirinya selama ini (kreatif ya). Mirip ketika rekan-rekan SMND semangat menyanyikan lirik “Buruh Tani” di era 1997.

Mungkin fenomena Awkarin ini sesuai dengan pendapat Erik H. Erikson seorang tokoh teori psikososial dan teori psikoanalitik kontemporer, bahwa masa-masa sulit yang dialami remaja selalu terdapat kontradiksi-kontradiksi yang terelakkan diantara sistem-sistem nilai.

Lah masalahnya bro nih kontradiksinya terlalu bablas mas….melihat Awkarin di era kita SMA-SMP mungkin sangat berbeda, tengoklah kini seragam anak SMA ibukota yang lebih mirip cosplay anime Jepang ketimbang baju untuk belajar harian.

Alhamdulilahnya kini perlahan-lahan Awkarin yang semakin dewasa sudah mulai mengurangi “kegilaan”masa lalu, dan kita berharap para followernya pun bisa menjadikan pelajaran untuk memilih mana yang baik untuk ditiru atau sisi mana dari Awkarin yang harus ditinggalkan.

Srikandi #2 Jesicca

Gara-gara dia nih para penikmat kopi jadi deg-deg kan saat  nyeruput kopi, dah gitu setiap pesan di kedai kopi, selalu ada embel-embel “gak pake sianida ya !?”.

Srikandi ke dua bernama Jesicca yang sebetulnya belum genap seminggu di Jakarta ini ternyata sudah lama berdomisili di Australia. Tidak kalah heboh dengan Awkarin, Jesicca memancing reaksi publik dikarenakan peristiwa kematian Mirna (teman dekat Jesicca) tepat saat meminum Cofee di Kafe Olivier West Mall Grand Indonesia yang dipesankan oleh Jesicca dan kebetulan atas undangan Jesicca nah loh ….(makanya hati-hati ya kalau diundang minum kopi di tempat yang mahal takutnya malah kita disuruh bayarin, halah!)

Kesempurnaan detik-detik pembunuhan Mirna yang tanpa cela ini  mirip dengan misteri siapa dalang pembunuhan presiden U.S John F kennedy, atau kisah The Original Night Stalker yaitu nama yang diberikan kepada pembunuh berantai dan pemerkosa yang sudah memakan korban lebih dari 10 orang di California Selatan mulai tahun 1979 hingga 1986 tapi tidak terungkap.

Atau juga kisah “Jack The Ripper” (1988) sebutan untuk pembunuh misterius berantai tepatnya di kawasan East Enddengan London dimana 11 wanita menjadi korban pembunuhan di Whitecaple

Terlepas dari bukti rekaman dan saksi ahli teori yang minim fakta, kejanggalan yang terjadi pada seorang Jesicca bukan kali pertama. Sebelumnya menurut laporan dari dokumen kepolisian Australia, AFP, Jessica diindikasikan pernah melakukan 4 kali percobaan bunuh diri, yang mengakibatkan perempuan 27 tahun tersebut harus dirawat di rumah sakit. Kemudian jesica juga pernah diadili di pengadilan Australia akibat mengonsumsi alkohol dan berkendara dalam keadaan mabuk. Serta laporan pengancaman kepada rekannya sendiri.

sebuah rekor yang cukup “mengagumkan” kan !?….

semoga kasus yang terakhir ini sepertinya akan menjadi akhir dari petualangan Jesicca.

Srikandi #3 Marwah Daud Ibrahim

Di deretan  “Srikandi” terakhir ini saya mengambil nama Marwah daud ibrahim. Seorang ibu paruh baya yang kini sempat membuat masyarakat terhenyak,

Beberapa rekan saya malah bilang… “nih emak-emak bukannya banyakin dzikir di era sepuh kok malah masih maen ginian?” gak takut usia…soalnya Kanjeng Nabi Muhammad saja meninggal di usia 63 tahun.

Kok bisa ? ya bisa saja, namanya juga manusia

Seorang professor alias intelektual tulen yang lahir 8 November 1956, Soppeng, Sulawesi Selatan yang juga mantan mahasiswa teladan se Sulawesi lalu pernah mendapatkan beasiswa ke Amerika untuk meraih master di American University, Washington DC, Amerika Serikat, jurusan Komunikasi Internasional tahun 1982, serta meraih gelar doktor tahun 1989 sebagai lulusan terbaik (distinction) dan kini bergelar professor kok bisa berfikir jauh dibawah seperti anak TPA ?

Bagaimana tidak ?!

Seorang Marwah daud ibrahim, sekali lagi seorang Marwah Daud ada dibelakang barisan pendukung Kanjeng Dimas Taat pribadi yang konon katanya mampu menggandakan uang? dan bagi perempuan mantan aktivis mahasiswa ini Dimas Kanjeng termasuk orang istimewa yang dianugerahi ilmu dan karomah plus mirip dengan Kang Dong-Won yang bermain dalam film “1 percent of Anything” …Oaalaaah…

Jujur ya bu …. sebagai mantan anggota dewan pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia dan mantan MUI ini, sikap mati-matian membela “ilmu” kanjeng dimas adalah sesuatu hal yang diluar dari naluri akal sehat.

Dan seorang intelektual serta peneliti ilmiah sekelas marwah bisa mempercayai sesuatu diluar logika itu saja sudah lebih heboh ketimbang fenomena kanjeng dimas itu sendiri.

Semoga saja bu Marwah segera kembali kejalan yang baik dan benar, itu doa kami buat ibu.

Penutup

Betul kata idiom kuno bahwa “sebuah keniscayaan mampu memahami wanita”, 3 srikandi yang saya bahas tadi adalah bukti nyata bahwa kadang ada sisi wanita yang berbeda.

Melihat 3 phase srikandi diatas mungkin saja kita bisa “terpeleset” dibagian dan phase umur tertentu, tetapi apa iya kita selalu terjerambab dalam cerita yang sama? dan tidak mengalami phase perubahan? haloooooo

Bukan kah kita diminta untuk menjadi seseorang yang baik untuk “bekal” nanti.

Apakah kita rela tetap menjadi Awkarin di masa muda yang bebas melakukan apa saja, atau Jessica yang penuh misteri dan irasionalitas Marwah di masa tua?

gak mau kan…?

Makanya yuk rubah diri kita menjadi manusia yang lebih baik….

salam blogger

bangfajar

penulis adalah seorang guru kampung dipinggir kota ..bingungkan ?

baca tulisan lainnya di  https://bangfajars.wordpress.com

 

*salam hormat buat Awkarin, Jesica dan Bu Marwah …. do’a saya buat kalian semua

 

 

 

 

 

Posted on 20/10/2016, in renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: